.: sEgALaNyA iTu tTg SeGaLaNyA

28 January , 2006

Tak pernah lupa bersyukur !!!!

Filed under: Kehidupan, Ruhani

Tak Pernah Lupa Bersyukur
Ahmad Syamil
Sat, 18 Dec 2004 14:37:40 -0800

http://www.republika.co.id/ASP/online_detail.asp?id=178053&kat_id=85

Minggu, 07 Nopember 2004 8:40:00
Sugiharto
Tak Pernah Lupa Bersyukur

Laporan:

Pada sebuah nama melekat doa
orangtua. Harapan baik teriring sepanjang
hayat si anak. Namanya Sugiharto (bahasa jawa). ‘Sugih’ adalah padanan
kaya, sedangkan ‘arto’ berarti uang atau harta. Makna nama itu mewujud
di kemudian hari. Si pemilik nama mencapainya lantaran meniti hidup
dengan selalu ikhlas, ibadah, dan bersyukur. Ia juga bekerja keras,
tekun, ulet, dan jujur.

Sejak SMP, ia bekerja menjadi pembantu rumah tangga dan berjualan rokok
untuk membiayai sekolah. ‘’SMA saya naik pangkat jadi tukang parkir di
Bioskop Taruna, Tanjungpriok,'’ ujarnya. Siapa sangka, kini Sugiahrto
menduduki jabatan strategis, Menteri Negara BUMN. Beristrikan Tati
Suhartini, ayah lima anak ini sukses menjadi arsitek bisnis. Sugiharto
dikenal sebagai The Chief Financial Officer (CFO) of Indonesia Future.
Bahkan, ia pun pernah meraih penghargaan sebagai The Best CEO of The
Year 1996.

Meski tak pernah bermimpi menjadi menteri, namun ia telah tiga kali
ditawari jadi menteri. Obsesi
sang ayah agar anaknya bisa menjadi
menteri akhirnya terkabul. Sang pekerja keras itu, mengaku biasa tidur
di atas pukul 24.00. ‘’Negara kita berada dalam situasi tidak normal.
Jadi, kita harus bekerja ekstra,'’ ungkapnya. Di sela-sela kesibukannya,
Sugiharto menyempatkan menerima jajaran pimpinan redaksi Republika di
kediamannya di Jl Ciniru I No 3. Berikut petikan wawancara yang direkam
wartawan Republika, Heri Ruslan dan Hasan Murtiaji:

Bagaimana cerita masa kecil Anda?

Saya ini berasal dari kalangan tidak mampu. Sejak duduk di kelas dua SMP
Taman Siswa, Kemayoran, saya sudah membiayai sekolah sendiri. Saya
mencari uang dengan membantu bibi menjadi pembantu rumah tangga.
Membantu menyiram bunga, mencuci piring, dan mencuci baju. Sehabis itu,
saya nyambi jualan rokok klobot di pangkalan ojek dan becak. Saya buka
warung, modalnya sisa uang dari menjadi pembantu. Waktu itu, untuk
menghemat uang ongkos, setiap pulang sekolah saya
biasa naik kereta
gerbong yang suka membawa tangki minyak ke Tanjungpriok. Dulu jadwal
keretanya nggak tetap. Biasanya, pulang jam 12.00. tapi kalau kereta
belum berangkat, saya terpaksa harus menunggu hingga jam 15.00. Waktu
itu, saya naik kereta gerbong gelantungan. Kira-kira, sekitar tahun
1970-an. Waktu itu sangat usah sekali. Saya pun pernah merasakan makan
bulgur dan nasi merah.

Melanjutkan sekolah ke SMA mana?

Setelah itu, saya melanjutkan sekolah ke SMAN 13 Jakarta. Saat sekolah
di SMA, saya naik pangkat jadi tukang jaga parkir di Bioskop Taruna di
Jl Enggano, Tanjungpriok. Setiap hari saya harus mulai stand by bekerja
pukul 17.00, karena film mulai main pukul 19.00. Malah, jika pada
hari-hari tertentu ada film bagus, biasanya diputar midnight. Sehingga,
saya harus pulang jam 01.00 atau 01.30. Saya masih ingat waktu itu
teman-teman membayar SPP sesuai penghasilan orangtuanya. Karena orangtua
saya tidak mampu, saya kemudian
mendatangi guru wali kelas. ‘Bu saya kan
punya penghasilan sendiri jadi juru parkir, saya harus gimana membayar
SPP-nya’. Guru itu tak menjawab, namun hanya berlinang air mata. Saya
tak pernah lupa dengan jasa para guru. Saat ini, ada sembilan guru yang
saya kasih sertifikat deposito. Nilainya memang nggak seberapa, tapi
bagi mereka itu sangat berarti. Hingga akhirnya, saya bisa juga lulus
SMA dan meraih peringkat dua besar. Sebenarnya, cita-cita saya ingin
melanjutkan studi ke fakultas kedokteran. Namun, hal itu tidak tercapai
karena orangtua tidak mampu.

Sugiharto lahir di Medan 29 April 1955. Ia sangat ulet dan rajin. Di
sela-sela kerjanya menjaga tempat parkir, Sugiharto muda tetap mencoba
belajar dan membaca buku di bawah keremangan lampu penerangan. Suatu
malam, saat musim ulangan, Sugiharto tetap harus bekerja. Saat itu guru
wali kelasnya, Budiharti, bersama suaminya menonton film di bioskop
Taruna. Sang guru takjub begitu melihat
muridnya tengah membaca buku di
bawah cahaya lampu seadanya. Melihat murid kesayangannya memiliki
semangat belajar yang tinggi, air mata sang guru langsung berlinang. Dia
bangga melihat muridnya. Besoknya ibu guru Budiharti pun bercerita di
depan kelas. Mendengar cerita sang guru, kawan-kawan Sugiharto pun tak
pelak langsung meneteskan air mata, terharu.

Saat itu kan Anda kesulitan ekonomi, bagaimana ceritanya bisa
melanjutkan kuliah? Saya tahu bahwa kalau saya kuliah bisa macet di
jalan. Saya susah, karena keluarga susah. Terlebih, saya harus membantu
ibu membeli beras dan menyediakan segala macam. Sehingga, begitu lulus
SMA saya harus kerja. Untuk mencari makan. Saya bertekad, kalau saya
kerja untuk makan, harapannya saya bisa sekolah sore. Saya akhirnya
melamar kerja. Alhamdulillah, karena saya top di sekolah, saya selalu
bisa melalui tes IQ dan tes lainnya lulus terus. Sebenarnya, otak saya
tak cemerlang. Kalau dihitung IQ mungkin
average saja. Tapi saya ini
orangnya tekun dan rajin dan tak lupa terus berdoa kepada Yang
Mahakuasa.

Saya pernah ikut tes Departemen Keuangan dan lulus. Namun, saya tolak.
Saya ingin bekerja sambil bisa melanjutkan sekolah. Awalnya, saya kerja
di PT Gaya Motor di Pasar Ular, Sunter. Kerja saya apa? Saya kerja di
bagian material handling. Itu cuma namanya saja, karena kerja sebenarnya
tukang gotong-gotong, bongkar peti. Itu luar biasa. Kebetulan karena
saya ingin sekolah, akhirnya saya tukaran shift. Saya pilih kerja malam.
Sejak itu, saya mulai kursus bahasa Inggris. Untuk meningkatkan
kepercayaan diri. Ada duit sedikit, karena saya hemat akhirnya saya
melanjutkan kuliah. Kira-kira sekitar enam bulan setelah itu nasib saya
mulai berubah.

Apa yang Anda lakukan waktu itu, sehingga bisa mengubah nasib?

Ketika itu, saya mencari di mana saya bisa kerja sambil belajar.
kemudian, waktu itu ada Drs Utomo yang memiliki kantor akuntan
di Jalan
Sabang yang mendidik orang lulus SMA dan sarjana dan sarjana muda
dilatih untuk menjadi auditor atau akuntan publik, untuk menjadi
technical asistance.

Waktu itu bekerja sambil belajar. Saya mendapat gaji pertama sekitar Rp
35 ribu. Pengajarnya ada dari Filipina. Nah setelah lulus kemudian saya
bekerja di kantor akuntan dari level yang paling bawah. Dari yunior
hingga manajer. Waktu saya kerja, saya dapat rangking dan bonus paling
tinggi. Karena, saya berupaya jujur dan ulet. Sambil kerja itu, saya
kuliah malam di Universitas Jayabaya dan mengambil jurusan akuntasi.
Setelah selesai, ada program extention saya melanjutkan kuliah di
Universitas Indonesia. Hampir 3,5 tahun, ngambil jurusan ekonomi.
Selesai tahun 1987. Mulai di situ saya mulai banyak bergaul dengan
orang-orang elite UI, ada Bambang Soebianto. Sehingga, saya merasa
percaya diri. Orang-orang UI sudah jadi anggota Berkeley Mafia. Akhirnya
Tuhan menganugerahkan
cita-cita saya kesampaian. Di situ network saya
mulai banyak dan membuat percaya diri saya meningkat.

Apa kunci yang membuat Anda bisa struggle dalam kondisi yang sulit?

Yang bisa mengubah nasib kita sesungguhnya hanya diri kita. Kalau kita
mengandalkan keluarga tentu tak bisa. Orangtua saya bukan orang kaya.
Kalau saya tak mengubah diri saya sendiri, who else? Jadi saya harus
bisa bangkit dari keterpurukan ini dengan tangis. Karena miskin, saya
dulu minder. Menatap wajah orang saja takut. Tapi saya sekarang percaya
diri. Saya coba membangun kematangan intelektual, spritual, dan
emosional. Pokoknya saya membedakan dengan orang. Saya tenang-tenang
saja. Karena asal saya dari gak ada menjadi sugih dan kalau gak ada lagi
sudah biasa. Meski begitu saya hidup punya perencanaan.

Sugiharto, selepas SMA, suatu ketika lewat di Jl Jenderal Sudirman.
bergelantung di atas bus. Air matanya berlinang. Dalam hatinya ia
berdoa, ‘’Ya Allah,
seandainya Engkau beri aku kesempatan bekerja di
gedung yang tinggi itu, alangkah berlipat gandanya kebahagiaan hamba-Mu
ini.'’ Doa itu akhirnya terkabul juga. Meski begitu, saat hidupnya masih
miskin dan hingga kini, ia tak pernah lupa mengucapkan syukur. Segala
pekerjaan dilakukannya dengan penuh keikhlasan. ‘’Tuhan berikan saya
berlipat ganda kenikmatan. Selalu ada saja kemudahan dalam menjalani
kehidupan.'’ Ia pun terharu saat diundang berbuka puasa Senin (1/11). Ia
disejajarkan dengan Sri Mulyani, Fahmi Idris, dan Jimly Asshiddiqie.
‘’Ini mustahil, kalau bukan Allah yang bukan mengangkat derajat saya,
dari pedagang asongan sejajar dengan ketua Mahkamah Konstitusi.'’
Baginya, bersyukur atas nikmat Allah membuat rezekinya dimudahkan.

Bagaimana ceritanya bisa bergabung ke PT Medco?

Sebelum ke Medco, saya pertama bekerja di kantor akuntan publik. Di situ
training saja, sekitar dua tahun. Setelah training dua tahun dan empat
tahun
kerja kontrak, kemudian saya memutuskan pindah kerja ke sektor
jasa keuangan di perusahaan joint venture. Di situ saya kerja selama
empat tahun. Kemudian, setelah itu pindah lagi kerja di investment bank
selama delapan tahun. Saya kerja dari pangkat operasional manager, vice
president, sampai direktur. Sekitar 1991, setelah punya pengalaman
sebagai akuntan, management consultan, invesment banker, kemudian masuk
ke real sector.

Kemudian, saya ditawari Pak Bambang Soebianto untuk berkenalan dengan
Arifin Panigoro. Waktu itu saya sempat bertanya, ‘Siapa Pak Arifin
Panigoro itu?’ Pak Bambang bilang, temannya dulu di Bandung. Kemudian,
saya janjian dan bertemu Pak Arifin di Lapangan Banteng. Akhirnya, saya
ngobrol dan match dengan dia. Mulai Juli sampai Desember 1991, saya
membantu beliau untuk empowerment mindset direksi-direksi.

Lama-lama, karena sifat saya dan satu-satunya dari UI, orang yang punya
pengalaman lain dengan
insinyur-insinyur elektro ini. Saya dianggap
punya pikiran baru yang tidak mereka miliki. Sehingga mereka excited,
saya juga merasa dibutuhkan. Sehingga, match. Karakter mereka juga
bagus.

Sejak kapan Anda mulai bergabung?

Setelah lima bulan membantu tepatnya, 2 Desember 1991, Pak Arifin
akhirnya mengajak saya untuk bergabung. Beliau mengatakan, ‘To
teman-teman semua kelihatannya tak ada yang against you. Udah kamu
pindah aja kemari.’ Saya bilang, gaji saya 6.500 dolar terus saya punya
rumah masih ngutang. Dulu saya pinjam sekitar Rp 600 juta. Sebenarnya
utang itu nggak usah dibayar, kalau saya sudah lima tahun kerja di situ
utang lunas. Gimana nih? Pak Arifin bilang, ‘Akh, yang nyari duit kan
you juga. Udah atur aja.’ Saya waktu itu minta dibayar dengan gaji yang
sama dan pakai dolar.

Sugiharto memiliki etos kerja yang luar biasa. Ia kerap kerja hingga
larut malam. Bahkan, pada hari Sabtu dan Ahad sekalipun. Tak
heran,
ruang kerjanya masih tampak terang hingga tengah malam. Pola kerjanya
itu kemudian banyak ditiru para pegawai di PT Medco. Kerja kerasnya itu
membuahkan penghargaan. Pada 1996, Sugiharto mendapat penghargaan
sebagai The Best CEO of The Year. Selain itu, ia juga masuk dalam
jajaran 600 top management of Indonesian Major Corporation. Pria
berdarah campuran Jawa dan Banten ini juga meraih gelar MBA pada
Indonesian School of Management and Amsterdam School of Management,
Belanda. Hingga kini, Sugiharto mengaku biasa tidur di atas pukul 24.00.
Hari Sabtu pun masih digunakan untuk menampung aspirasi dari masyarakat,
yang mau mengadukan masalah-masalah BUMN.

Bagaimana ceritanya Anda belajar agama?

Saya belajar agama, sesudah waktu saya sekolah dasar (SD), pada siang
harinya saya sekolah agama. Saya belajar masalah agama secara otodidak.
Selain itu juga saya aktif di majelis taklim. Sekarang saya sering
diundang berbicara di Pondok
Pesantren Gontor. Saya bicara dalam forum
studium general.

Bagaimana mendidik anak-anak di sela-sela kesibukan?

Anak saya tiga sekarang sekolah di Amerika. Anak saya yang nomor satu,
sejak SMP nggak gaptek komputer. Rata-rata anak saya itu sekolahnya di
Al-Azhar, jadi beda dengan saya dulu. Belajar agama pada siang hari.
Tapi kalau al-Azhar, sekolah sampai sore, tapi komplet.

Itu yang mempermudah saya untuk men-transform keinginan saya agar supaya
anak-anak memiliki spiritual quotient (SQ). Kalau cuma sekolah umum
saja, mungkin faktor spriritualnya kecil. Namun kan, di al-Azhar ada
komponen IQ, SQ, dan EQ. Kalau saya belajar SQ melalui perjalanan waktu.

Anak-anak saya kursusin bahasa inggris, pulang sekolah harus belajar
lagi dan kursus lagi. Saya berikan penekanan, anak saya itu tidak boleh
seperti bapaknya yang kesulitan. Karena bapaknya mampu, sampai ke mana
mau sekolah. Saya tantang anak saya untuk menjadi warga
negara
internasional. Anak saya ini shalat dan puasanya sudah tertib dan saya
tak khawatir.

Komunikasinya seperti apa?

Ini sudah zamannya IT, bisa chatting, sms, telepon. Saya setahun road
show dua kali ke Amerika dan ketemu mereka. Yang membuat saya terharu,
kalau saya di Amerika saya diminta menjadi imam shalat. Buat saya kerja
jadi semangat. Orang kerja untuk keturunannya. Salah satu amal yang
ditinggalkan adalah anak yang saleh. Menjadikan kerja saya hobby.

Sugiharto tak hanya dikenal sebagai profesional bisnis yang tangguh. Ia
pun aktif di berbagai organisasi. Saat ini, ia menjabat sebagai ketua
umum Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi), bendahara umum ICMI,
ketua umum Yayasan Abdi Bangsa, ketua Yayasan Wirausaha Madani
Indonesia. Ia juga aktif sebagai bendahara umum, Masyarakat Ekonomi
Syariah dan sejumlah organisasi lainnya. ‘’Justeru, aktivitas inilah
yang membuat posisi saya sebagai profesional menjadi semakin
kuat,
profesional plus,'’ tuturnya. Baginya, saat ini persoalan yang harus
segera dibenahi agar bisa bangsa Indonesia bisa kembali bangkit adalah
masalah moral.

Apa arti hidup bagi Anda?

Arti hidup itu adalah ibadah. Kerja itu ibadah yang paling tinggi
nilainya. Kalau diniatkan ibadah. Kalau kita kerja tidak diniatkan
ibadah sama saja seperti binatang, pergi pagi dan pulang sore.

Pernah nggak bermimpi menjadi menteri?

Nggak pernah, saya bermimpi menjadi menteri. Namun, bapak saya dulu
punya obsesi agar saya menjadi pembela bangsa dan negara. Waktu itu,
bapak ingin saya menjadi menteri. Beliau selalu bilang, ‘Kapan ya anakku
jadi menteri?’. Bapak bangga sekali kalau saya bicara soal bangsa dan
negara. Ia senang luar biasa. Sebenarnya, saya sudah tiga kali
dicalonkan jadi menteri. Pertama kali, waktu Pak Hamzah Haz jadi Menteri
Investasi, zaman Presiden Pak Habibie. Saya dikenalin dengan Eki
Syahrudin. Saya sebagai
profesional bantu pemikiran. Waktu itu dia minta
saya gantiin dia jadi menteri, kalau dia terjun sebagai ketua umum
partai mau kampanye. Menteri kan nggak boleh kampanye. Namun, tidak
kesampaian. Yang kedua, waktu poros tengah menang. Ada 11 menteri yang
didesain, malemnya sampai jam 21.00, nama saya ada. Namun, karena ada
interupsi dan militer dan Taufik Kemas memasukkan Kwik Kian Gie dan
Laksamana Sukardi. Akibatnya, yang tiga mental. Ternyata BUMN diincar
PDIP. Pak Amien pun mengaku kecolongan.

Bagaimana cerita ketika dipanggil di Cikeas?

Saya dipanggil ke Cikeas. Saya awalnya, teken kontrak menjadi menteri
perindustrian. Pak SBY tanya saya tentang perindustrian. Pak SBY bilang
‘Saya senang kalau Anda mau bergabung dan ini anggap saja sebagai
amanah. Saya ingin menempatkan Anda di menteri perindustrian.’ Namun,
kemudian pada akhirnya saya menjadi Meneg BUMN. Dan kalau boleh memilih,
saya pun ingin menjadi Menteri
BUMN.

20 January , 2006

Sebuah nasehat

Filed under: Ruhani

Sebuah Nasehat
**Siapakah orang yang sibuk?
**Orang yang sibuk adalah orang yang suka menyepelekan waktu sholatnya seolah-olah ia mempunyai kerajaan seperti kerajaan Nabi Sulaiman a.s Maka sempatkanlah bagimu untuk beribadah…………..dan bersegeralah!*

**Siapakah orang yang manis senyumannya?
**Orang yang mempunyai senyuman manis adalah orang yang ditimpa musibah lalu dia berucap “Inna lillahi wainna illaihi rajiuun.” Kemudian berkata,”Ya Rabb, Aku ridha dengan ketentuanMu ini”, sambil mengukir senyuman. Maka berbaik hatilah dan bersabar……………*

**Siapakah orang yang kaya?
**Orang yang kaya adalah orang yang bersyukur dengan apa yang ada dan tidak lupa akan kenikmatan dunia yang sementara ini.*

*Maka bersyukurlah atas nikmat yang kau terima dan berbagilah…….*

**Siapakah orang yang miskin?
**Orang yang miskin adalah orang yang tidak puas dengan nikmat yang ada dan selalu menumpuk-numpukkan harta. Maka janganlah kau menjadi kikir juga dengki………..*

**Siapakah orang yang rugi?
**Orang yang rugi adalah orang yang sudah sampai usia pertengahan namun masih berat untuk melakukan ibadat dan amal-amal kebaikan. Maka hargailah waktumu dan bersegeralah…………..*

**Siapakah orang yang paling cantik?
**Orang yang paling cantik adalah orang yang mempunyai akhlak yang baik. Maka peliharalah akhlakmu dari dosa dan noda ……………………….*

**Siapakah orang yang mempunyai rumah yang paling luas?*

*Adalah orang yang mati membawa amal-amal kebaikan dimana kuburnya akan di perluaskan sejauh mata memandang*

*Maka beramal shalehlah selagi sempat dan mampu……………*

**Siapakah orang yang mempunyai rumah yang sempit lagi dihimpit?**
**Orang yang mempunyai rumah yang sempit adalah orang yang mati tidak membawa amal-amal kebaikkan lalu kuburnya menghimpitnya. Maka ingatlah akan kematian dan kehidupan setelah dunia…………*

**Siapakah orang yang mempunyai akal?
**Orang yang mempunyai akal adalah orang-orang yang menghuni syurga kelak karena telah menggunakan akal sewaktu di dunia untuk menghindari siksa neraka. *

*Maka peliharalah akal sehatmu dan pergunakan semaksimal mungkin untuk mengharap ridho-Nya…………..*

*Siapakah orang yang **PELIT** ?***
**Orang yg pelit ialah org yg membiarkan atau membuang nasehat yang berguna ini begitu saja, malah dia tidak akan menyampaikan kepada org lain.**

Dari blognya wulan

Kemenangan Do’a

Kemenangan Doa
Oleh: Azimah Rahayu
20/12/2005 09:42 WIB

Sosoknya amat sederhana. Tinggi rata-rata, berat rata-rata, penampilan rata-rata, kulit sawo matang layaknya orang Jawa, bahkan lebih hitam karena setiap hari terpanggang matahari, di atas lautan lagi. Prestasi rata-rata, aktifitasnya pun biasa saja. Jelas bukan selebritis, bahkan di tingkat RT sekalipun. Dia hanyalah seorang hamba Allah sederhana, yang mencoba menjalani hidup untuk berbakti kepada TuhanNya dengan jalan amat sederhana: beribadah makhdhah dengan baik, bekerja dengan baik, berbakti kepada ibu bapak serta menjalin silaturahmi dengan baik kepada saudara seiman, saudara sedarah, dan sesama manusia.

Dia, pemuda kampung dari wilayah Karesidenan Surakarta yang telah berjuang merenda hidup di Jakarta empat tahun ini. Sama seperti saya, gadis kampung dari selatan kota Solo yang tengah mencoba memaknai hidup di ibukota sepuluh tahun terakhir. Dia pernah menjadi murid sebuah SMU negeri di Solo, sebagaimana saya pun pernah menimba ilmu di salah satu SMU negeri yang lain di Solo juga. Dia adalah sepupu dari teman kuliah dan teman kos saya beberapa tahun lalu, namun saya dan dia tak pernah saling bertemu sebelumnya.

Memandanginya, sungguh hanya satu rasa yang terungkap di hati saya: Betapa Allah Maha Besar dan Maha Berkehendak. Memandanginya, tak lain dan tak bukan hanya menumbuhkan pengakuan dan ketertundukan saya atas Kuasa Kehendak Allah yang berpadu dengan Kemenangan Doa. Bagaimana tidak? Dua setengah bulan yang lalu, saya masih -sama sekali- tidak mengenalnya. Bukan hanya sekedar tidak mengenal, bahkan terbayang pun tidak. Terlintas di benak pun tidak tentang orang seperti dia. Karena saya dan dia hidup dalam dunia yang teramat berbeda. Amat sangat berbeda malah. Tak satu pun hal yang saling beririsan di antara kami berdua: baik pekerjaan, pendidikan, maupun aktitifitas sosial & organisasi.

Maka sungguh kehadirannya yang begitu tiba-tiba dan dari arah tak disangka-sangka sempat membuat saya limbung dan tak mengerti. Saya nyaris tak siap menerima kejutan seperti ini. Saya ingin menutup mata dan telinga saja atas kehadirannya. Saya bahkan sempat menolaknya. Bahwa proses kemudian akhirnya tersambung kembali dan berakhir dengan status suami istri bagi kami berdua, itu semua adalah semata karena Kebesaran Allah SWT.

Memandanginya, selalu mengingatkan saya atas dialog dengan ibu, wanita luar biasa yang selalu saya kagumi, lebih dari dua tahun lalu. Dialog yang saya rekam dalam sebuah catatan berjudul “Menjadi Ibu“ dan kemudian terpublikasi dalam buku pertama saya, Pagi Ini Aku Cantik Sekali terbitan PT Syaamil Cipta Media, 2003. Dalam buku tersebut masih tertera nyata paragraf-paragraf itu:

[Suatu hari, ibu saya berkata, ”Nduk, ibu selalu berdo’a dan meminta pada Allah tiap habis sholat, semoga kamu mendapat jodoh yang sholeh dan sepadan denganmu. Dan ibu juga minta, semoga jodohmu orang dekat sini saja, agar kalau ibu pengin menengok kalian, ibu tak harus jauh-jauh ke Jakarta. Agar ibu cukup dibonceng bapak, karena ibu pasti mabok kalau naik bis atau mobil”.

“Ah, ibu yang realistis dong. Saya kan sudah tujuh tahun tinggal di Jakarta. Darimana jalannya saya mendapat jodoh orang sini?” jawab saya.

Ibu saya menjawab kalem, ”Lho, jodoh itu khan urusan Alloh. Kita hamba-Nya boleh minta apa saja. Kalau Alloh menghendaki, ora kurang jalaran (tidak kurang sebab)”.]

Maka kini, memandangi laki-laki yang memiliki predikat baru sebagai suami saya itu, hanya menumbuhkan takjub yang tak henti melantun mengiringi tasbih. Takjub atas begitu mudah dan tak terduga Allah menjadikan semuanya. Takjub atas pengabulan doa ibu yang begitu tiba-tiba setelah sekian tahun berlalu. Takjub atas jalan yang ditempuh ibu saya untuk mendapatkan einginan hatinya: Doa yang tiada henti kepada Sang Pencipta, tanpa bosan, bertahun-tahun lamanya.

Beberapa waktu lalu, sesaat sebelum saya resmi menjadi istri laki-laki ini, Ibu bercerita kepada saya, bahwa sesungguhnya selama ini selalu ada rasa berat di hati Ibu saat saya mengajukan calon orang jauh, apalagi dari pulau seberang. Tapi Ibu tak pernah mengungkapkan ketidakrelaannya pada saya. Ibu memilih menyampaikan langsung keinginannya pada Dia Sang Maha Pencipta melalui doa yang tak pernah putus.

Pengakuan itu membuat saya terpana. Tak dapat berkata apa-apa. Karena, sungguh, ibu saya memang bukanlah tipe orang tua dengan banyak standar dan kriteria untuk calon menantunya. Ibu adalah sosok sederhana yang menerima setiap manusia lain dengan sederhana. Tak pernah Ibu meminta saya syarat macam-macam apalagi memaksakan kehendak dengan pemberian kriteria tentang calon menantu harus begini atau begitu. Tak pernah ibu menolak calon-calon yang saya ajukan. Bahkan selama ini, Ibu yang selalu mendorong saya untuk menerima setiap lamaran.

Tujuh tahun berlalu sejak saya berusia 23 tahun dan selama itu pula telah datang berbagai sosok silih berganti. Dari segi suku, ibu tak pernah mempermasalahkan ketika yang datang bersuku Padang, Sulawesi, Betawi, Sunda ataupun Jawa sendiri dengan berbagai kota di pelosoknya. Dari sisi pekerjaan, ibu juga tidak pernah mempermasalahkan meski ia hanya seorang satpam, pekerja bangunan atau guru TPA saja, sedang di waktu yang lain pernah datang seorang eksekutif muda, dosen maupun wira usahawan. Dari sisi pendidikan ibu juga tak keberatan meski calon yang saya ajukan hanya lulusan SMA padahal pernah datang kandidat doktor dan sarjana dari perguruan tinggi paling bergengsi di negeri ini. Sedang masalah rizki, ibu hanya selalu berkata: Allah yang akan mengaturnya. Masalah tempat hidup, ibu bilang, semua tempat di dunia ini adalah bumi Allah saja. Hanya satu yang ibu gariskan: ia hendaklah pemuda shaleh dan bertanggungjawab. Tak lebih.

Hanya saja, selama tujuh tahun itu, saya harus berulangkali tertunduk ketika realitas berkata lain: cinta dan kerinduan saya tak jua menemui muaranya. Berulang kali, proses menuju nikah yang saya jalani berakhir di tengah jalan dengan sebab yang kadang tak saya mengerti. Berulang kali, perjalanan cinta saya harus berakhir dengan senyum getir, bahkan beberapa di antaranya menyisakan luka, hati yang berkeping, menyerpih dan berdarah-darah. Berulangkali, sepanjang tujuh tahun itu saya merunduk dan menghiba: Allah, di manakah ia teman mengarungi hidup itu?

Dan dia, laki-laki sederhana itu datang, saat perasaan tak lagi dapat dijadikan panduan. Saat realitas tak lagi dalam jangkauan pikiran. Dia datang di puncak kegalauan saya. Dia datang dibatas ketidakmengertian saya atas garis kehidupan. Dia datang, saat komitmen yang telah empat bulan saya bangun dengan sosok sederhana lain, lagi-lagi membentur sebuah kenyataan: ketidakyakinan, ketidaknyamanan dan ketidakridhoan dari banyak pihak jika proses kami diteruskan. Maka apakah lagi yang dapat saya lakukan selain luruh di hadapanNya? Menghela sebuah kepasrahan, menyerahkan semua takdir pada Dia Sang Maha Pencipta.

Maka terpilihlah oleh nurani, laki-laki ini. Dia yang datang sepenuh keyakinan. Dia yang datang membawa perbekalan sederhana: kesiapan pribadi dan restu orangtuanya. Dia yang datang bagai pangeran berkuda hitam: tegak, kokoh, teguh menatap ke depan tanpa gamang.
“Engkau sudah istikharah?” begitu tanya saya waktu itu.
“Sudah” jawabnya mantap. “Keputusanmu untuk memilihku final?”
“Final!”
“Yakin?”
“Yakin sekali”
“Mengapa memilihku?”
“Satu, karena engkau kupercaya merupakan muslimah berakhlak baik dari karesidenan Surakarta. Kedua, karena engkau insyaAllah tepat untukku. Engkau adalah perempuan tangguh yang kupercaya sanggup hidup bersama seseorang yang bekerja di atas lautan sepertiku. Aku percaya engkau akan dapat menjaga kehormatan suami saat ditinggal pergi dengan menjaga kehormatan diri dan harta suaminya.”

Kata-katanya membuatku tertegun-tegun. Allah, ini untuk pertama kalinya Engkau mempertemukanku dengan sesosok laki-laki yang memilihku bukan karena alasan ‘menginginkanku’, ‘keunggulanku’, ‘sebentuk emosi jiwa yang telah bersemi’, pun juga bukan karena ‘terserah kepada guru semata’ atau ‘tidak ada pilihan lain’. Ia datang dengan alasan mencari pasangan yang tepat, namun dengan kriteria amat sangat sederhana. Seperti yang dikatakan Anis Matta dalam bukunya “Sebelum Engkau Mengambil Keputusan Besar Itu”, bahwa seseorang semestinya mencari pasangan yang tepat untuk dirinya, bukan seseorang yang semata dikaguminya atau sosok unggul yang diinginkannya, yang disukainya, namun juga bukan sekedar mencari pasangan seadanya.

Maka ya Allah, ketika dia hadir begitu tiba-tiba, apalagi yang dapat kulakukan selain tunduk di hadapanMu? Selain pengakuan atas kebesaranMu dan ke-Maha kehendakanMu? Maka apalagi yang dapat kuungkap selain tasbih dan tahmid, serta takbir dan tahlil atas pengabulanMu pada doa panjang yang selalu dipanjatkan ibu saya bertahun-tahun lamanya?

Inilah laki-laki itu. Belahan jiwaku. Maka ya Allah, bantu saya menjaga amanahMu. Beri pertolongan padaku untuk menetapi mitsaqon ghalidza dan qaulan syadiidan yang telah kuikrarkan kepadanya, sosok yang hadir sebagai bukti perpaduan antara kehendakMu dan kemenangan doa Ibu. Bimbing saya untuk berbakti pada laki-laki yang membebankan amanah kepercayaan besar di pundakku, dan kini kupanggil: Suamiku! Kamal Fikri namanya.

#Azimah Rahayu, ditulis sebagai prasasti, atas periode hidup baru,
Solo 4 Desember 2005#

Mengendalikan Cinta dengan Jihad

Mengendalikan Cinta dengan Jihad
Oleh: Vita Sarasi
20 Jan 2006 13:19 WIB

Pernahkah Anda merasa bahwa apa yang sedang Anda lakukan itu salah tapi masih juga dilakukan? Pendeknya, sudah tahu keliru tapi terus saja maju.

Itulah yang dialami seorang teman saya. Orangnya cerdas dan kini dia mendapat beasiswa untuk belajar di sebuah perguruan tinggi pendidikan agama terkenal di luar negeri. Kepiawaiannya sangat diakui rekan dan para dosennya. Bahkan karya tulisnya mengenai agama menghiasi majalah dan surat kabar. Namun dia mengeluh kepada saya, bahwa saat ini dia tak bisa konsentrasi belajar karena memikirkan hubungan cinta jarak jauhnya. Ya, dia tengah menjalin cinta dengan seseorang yang sedang studi juga di negara lain sejak beberapa bulan ini. Benang-benang asmara terajut lewat email, chatting, dan SMS, nyaris setiap hari. Ada saja hal-hal yang saling dicurhatkan dan dilaporkan. Masya Allah!

Namun, konflik batin terus menggelayuti hati dan pikiran teman saya itu. Betapa tidak, dia tahu bahwa semua itu mengganggu konsentrasi belajarnya, apalagi saat ini dia sedang mempersiapkan ujian akhirnya. Terbayang jika gagal, maka orang tua yang siang malam mendoakannya pasti akan kecewa. Lebih-lebih lagi, dia juga paham bahwa apa yang mereka lakukan selama ini adalah dosa yang bisa dikategorikan sebagai zina hati. Dia juga mengerti bahwa itu semua bisa terjadi karena godaan syaithan la’natullah, yang makin menggila kala imannya sedang lemah. Namun apa daya, dia merasa tidak sanggup melawan arus deras godaan cinta itu. Dia merasa terus terhanyut oleh buaian syaithan yang kali ini seakan berwajah manis. Bayangan sang kekasih sungguh sulit untuk dihapuskan. Pikirannya yang cerdas dan pengetahuan yang luas mengenai syariat Islam seakan berubah menjadi tumpul kala digunakan untuk mengatasi konflik batin ini.

****

Alhamdulillah, suatu saat dia mendatangi majelis taklim dan mendengar lantunan firman Allah SWT: “Sesungguhnya syaithan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia sebagai musuh, karena sesungguhnya syaithan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS Fathir: 6). Suara hafidz yang tartil itu sungguh merasuk dalam qalbunya dan menjadi media penghantar Nur Hidayah-Nya.

“Jihad…!!!” teriaknya tanpa sadar.

Benar sekali, jihadun nafs (jihad melawan hawa nafsu diri-sendiri) dan jihadusy syaithan (jihad melawan syaithan). Dua istilah yang intinya satu yakni jihad ini menggetarkan hati dan pikirannya. Teringat tausyiah salah seorang gurunya: “Kata Al-Jihad di-kasrah huruf jim secara bahasa bermakna kesulitan, kesukaran, kepayahan. Sedangkan secara syar’i bermakna mencurahkan segala kemampuan dalam memerangi musuh, khususnya orang-orang kafir.”

Kuncinya adalah “Mengerahkan segala kemampuan, baik materi atau bahkan nyawa kita, untuk membela agama Allah dan melawan musuh Allah dan Rasul-Nya”. Jadi, jika usaha kita biasa-biasa saja atau sambil lalu belumlah dikatakan sebagai jihad.

Menurut Ibnul Qayyim ra., jihadun nafs adalah jihad seorang hamba untuk menundukkan dirinya dalam ketaatan kepada Allah SWT, dengan melakukan apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi apa yang dilarang-Nya, serta memerangi diri sendiri di jalan Allah. Sedangkan jihadusy syaithan ada dua tingkatan, pertama berjihad untuk menghalau segala sesuatu yang dilontarkan syaithan pada manusia berupa syubhat dan keraguan yang dapat membahayakan perkara iman. Orang yang mampu mengerjakannya akan membuahkan keyakinan. Kedua, berjihad untuk menghalau segala apa yang dilemparkan syaithan berupa kehendak buruk dan syahwat. Orang yang mampu melakukannya akan membuahkan kesabaran. Sabar akan menolak syahwat dan kehendak buruk, keyakinan akan menolak keraguan dan syubhat.

Dua jenis jihad inilah yang perlu kita lakukan terlebih dahulu sebelum jihadul kuffar (jihad melawan orang kafir yang menyerang aqidah Islam) dan jihadul munafiqin (jihad melawan orang munafiq yang yang menyerang aqidah Islam).

****

“Jadi… tunggu apa lagi”, pikir teman saya itu, “Musuh sudah jelas walaupun tidak tampak, yaitu syaithan. Jalan sudah ada, yaitu jihad. Saya akan mulai dengan berniat lilLaahi Ta’ala, sebab amal perbuatan akan sia-sia di mata Allah jika tidak dilandasi dengan niat yang benar, Innamal a’malu bin niyyaat”. Beberapa program jihadun nafs dan jihadusy syaithan dia canangkan dan dia jalankan dengan penuh kesungguhan dan keyakinan. Genderang perang melawan hawa nafsu dan syaithan ditabuhnya dengan menggelegar. Hatinya ikhlas, jika memang sang kekasihnya itu adalah jodohnya, Insya Allah akan dipertemukan dengannya dalam pernikahan yang syar’i.

Untuk mewujudkannya, tidak perlu komunikasi hotline 24 jam sehari dengan sang kekasih seperti yang sudah-sudah. Yang penting, amanah belajar harus dituntaskan dulu. Namun dalam masa belajar ini, adalah rugi di mata Allah jika hanya mempelajari pengetahuan duniawi tanpa mendasarinya dengan pengetahuan ukhrawi. Oleh sebab itu, jika suatu saat dia akan mengajak kekasihnya untuk menikah maka diniatkan sebagai ajakan untuk beribadah.

Jika godaan nafsu datang, dia hadapi dengan memperbanyak puasa, istighfar, dan zikir. Untuk meneguhkan hati dan fisiknya, dia perbanyak tilawatil Qur’an dan Qiyamul Lail. Jika ada perkara meragukan, apakah tergolong kebaikan atau justru keburukan, dia ingat sabda Rasulullah SAW: “Kebaikan itu adalah akhlaq yang baik. Dan dosa adalah apa-apa yang meragukan jiwamu dan engkau tidak suka dilihat orang lain dalam melakukan hal itu.” (HR Muslim).

Teman saya itu senyum-senyum kecut jika ingat apa saja yang pernah dia lakukan selama ini. Kebodohan atau kekurang pengetahuannya memang berbuah kejahilan; menjahili apa-apa yang menjadi ketentuan Allah SWT, yaitu: apa yang disuruh-Nya dilalaikan, apa yang dilarang-Nya justru dijalankan sebaik-baiknya. Astaghfirullah…

Kini teman saya sangat bahagia karena merasa tidak dibiarkan oleh Allah SWT bergelimang dalam kesesatan dan maksiat. Ia merasa sangat bersyukur karena telah mendapat taufiq dan hidayah-Nya dalam mengendalikan cintanya dengan jihad.

Frankfurt am Main, 11 Januari 2006 Vita Sarasi
vitasarasi at yahoo.com

18 January , 2006

mEnciNtai dG cara sEmpuRna

mEnciNtai dG cara sEmpuRna

Tuesday, January 03, 2006

Ketika kita bertemu orang yang tepat untuk dicintai,
Ketika kita berada di tempat pada saat yang tepat,
Itulah kesempatan

Ketika engkau bertemu dengan seseorang yang membuatmu
tertarik,
Itu bukan pilihan itu kesempatan.
Bertemu dalam suatu peristiwa bukanlah pilihan..
Itupun adalah kesempatan

Bila engkau memutuskan untuk mencintai orang tersebut,
Bahkan dengan segala kekurangannya,
Itu bukan kesempatan, itu adalah pilihan

Ketika engkau memilih bersama dengan seseorang
walaupun apapun yang terjadi
Itu adalah pilihan

Bahkan ketika kau menyadari bahwa masih banyak orang
lain
Yang lebih menarik,pandai, dan kaya daripada
pasanganmu
dan Tetap engkau memilih untuk mencintainya,
Itulah pilihan

Perasaan cinta,simpatik,tertarik
Datang bagai kesempatan pada kita..
Tetapi cinta sejati yang abadi adalah pilihan.
Pilihan yang kita lakukan.

Berbicara tentang pasangan jiwa,
Ada suatu kutipan dari film yang mungkin sangat tepat:
Nasib membawa kita bersama.
Tetapi tetap bergantung pada kita
bagaimana membuat semuanya berhasil

Pasangan jiwa bisa benar-benar ada
Dan bahkan sangat mungkin ada seseorang
Yang diciptakan hanya untukmu
Tetapi tetap berpulang padamu untuk melakukan pilihan
Apakah engkau ingin melakukan sesuatu untuk
mendapatkannya
Atau tidak

Kita mungkin kebetulan bertemu pasangan jiwa kita,
Tetap mencintai dan tetap bersama pasangan jiwa kita
Tetap adalah pilihan yang harus kita lakukan.

Kita ada di dunia bukan untuk mencari seseorang
yang sempurna untuk dicintai
TETAPI untuk belajar mencintai orang
Yang tidak sempurna dengan cara yang
Sempurna.

===============================
Belahan jiwa tidak bisa dicari namun bisa di ciptakan
Dia memang ada…rasakan karena dia ada dalam hati mu…
Luv u so much..

taken from blognya “Omith”

16 January , 2006

Cara berpikir org sukses

Filed under: Kehidupan, Bisnis

CARA BERPIKIR ORANG SUKSES

“Successful people think differently than unsuccessful people”
Ungkapan ini berusaha menjelaskan bahwa perbedaan utama antara orang sukses dan orang gagal ada pada cara berpikirnya. Mereka yang sukses adalah mereka yang selalu menggunakan kekuatan berpikir untuk terus memperbaiki hidupnya sehingga lebih baik.
Orang-orang yang sukses ini adalah mereka yang memiliki tipe berpikir positif. Tipe berpikir orang-orang sukses ini adalah:

  • 1.Big picture thinking bukan small thinking
    Cara berpikir ini menjadikan mereka terus belajar, banyak mendengar dan terfokus sehingga cakrawala mereka menjadi luas.
  • 2.Focused thinking bukan scattered thinking
    Sehingga dapat menghemat waktu dan energi, loncatan-locatan besar dapat mereka raih.
  • 3.Creative thinking bukan restrictive thinking Proses berpikir kreatif ini meliputi:think-collect-create-correct-connect.
  • 4.Realistic thinking bukan fantasy thinking
    Memungkinkan mereka meminimalkan risiko, ada target & plan, security, sebagai Katalis dan memiliki Kredibilitas.
  • 5.Strategic thinking bukan random thinking
    Sehingga simplifies, customize, antisipatif, reduce error and influence other dapat dilakukan.
  • 6.Possibility thinking bukan limited thinking
    Mereka dapat berpikir bebas dan menemukan solusi bagi situasi yang dihadapi.
  • 7.Reflective thinking bukan impulsive thinking Memungkinkan mereka memiliki integritas, clarify big picture, confident
    decision making.
  • 8.Innovative thinking bukan popular thinking
    Menghindari cara berpikir yang awam untuk meraih sesuatu yang lebih baik.
  • 9.Shared thinking bukan solo thinking
    Berbagi pemikiran dengan orang lain untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.
  • 10.Unselfish thinking bukan selfish thinking
    Memungkinkan mereka berkolaborasi dengan pemikian orang lain.
  • 11.Bottom line thinking bukan wishful thinking
    Berfokus pada hasil sehingga dapat meraih hasil berdasarkan potensi pemikiran yang dimiliki.
  • –|| seSederhana itu Segalanya ||–

    Beginilah seharusnya

    Filed under: Kehidupan, Ruhani

    Beginilah Seharusnya

    Dua orang bersaudara bekerja bersama menggarap ladang milik keluarga mereka. Yang seorang, si kakak, telah menikah, dan memiliki keluarga yang cukup besar. Si adik masih lajang, dan berencana tidak menikah. Ketika musim panen tiba, mereka selalu membagi hasil sama rata. Selalu begitu.

    Pada suatu hari, si adik yang masih lajang itu berpikir, “Tidak adil jika kami membagi rata semua hasil yang kami peroleh. Aku masih lajang dan kebutuhanku hanya sedikit.” Maka, demi si kakak, setiap malam, dia akan mengambil sekarung padi miliknya, dan dengan diam-diam, meletakkan karung itu di lumbung milik kakaknya. Sekarung itu ia anggap cukuplah untuk mengurangi beban si kakak dan keluarganya.

    Sementara itu, si kakak yang telah menikah pun merasa gelisah akan nasib adiknya. Ia berpikir, “Tidak adil jika kami selalu membagi rata semua hasil yang kami peroleh. Aku punya istri dan anak-anak yang akan mampu merawatku kelak ketika tua. Sedangkan adikku, tak punya siapa-siapa, tak akan ada yang peduli jika nanti dia tua dan miskin. Ia berhak mendapatkan hasil lebih daripada aku.”

    Karena itu, setiap malam, secara diam-diam, ia pun mengambil sekarung padi dari lumbungnya, dan memasukkan ke lumbung mulik adik satu-satunya itu. Ia berharap, satu karung itu dapatlah mengurangi beban adiknya, kelak.

    Begitulah, selama bertahun-tahun kedua bersaudara itu saling menyimpan rahasia. Sementara padi di lumbung keduanya tak pernah berubah jumlah. Sampai…, suatu malam, keduanya bertemu, ketika sedang memindahkan satu karung ke maring-masing lumbung saudaranya. Di saat itulah mereka sadar, dan saling menangis, berpelukan. Mereka tahu, dalam diam, ada cinta yang sangat dalam yang selama ini menjaga persaudaraan mereka. Ada harta, yang justru menjadi perekat cinta, bukan perusak. Demikianlah jika bersaudara.

    –|| seSederhana itu Segalanya ||–

    Jomblo

    Katakan Jomblo Sejujurnya
    Oleh Ayub Yahya(dengan penyesuaian seperlunya)

    Ada banyak alasan kenapa orang ngejomblo. Ada yang
    karena memang sudah pilihan. Jadi kesempatan sih ada.
    Kesiapan mental, spiritual dan material juga oke. Cuma
    ya, nggak mau saja. No way-lah.

    Nah, nggak maunya itu bisa karena ingin konsen dengan
    studi atau karier. Nggak mau diganggu dengan segala
    urusan tetek dan bengek. Bisa karena ingin total
    mengabdi panggilan pelayanan. Misalnya, ngurusin anak
    jalanan, atau pergi ke daerah terpencil dan melayani
    suku terasing di sana.

    Atau bisa juga karena ingin setia menanti cinta “sang
    tambatan hati”. Biar pun doi sudah punya “gandengan”
    (emangnya truk) alias tidak sendiri lagi. Prinsipnya
    sebelum “janur melengkung” (merit maksudnya) penantian
    jalan terus. Bahkan, andaikan pun nanti sang janur
    akhirnya melengkung juga: “Ku tunggu jandamu!” (kalau
    cewek, ya “Ku tunggu dudamu!”).
    Pokoknya, seperti lagunya Meriam Bellina: “Ku tutup
    pintu hati untuk semua cinta walau batin ini
    menjerit… hiks!” Lha habis gimana, sudah cinta
    setengah mati setengah hidup sama die. Nggak bisa
    pindah ke lain hati.

    (Apa pun alasan orang memilih ngejomblo, kita perlu
    ngehargainya. Ngejomblo atau tidak toh itu hak asasi
    setiap orang. Hak asasi berarti hak itu diberikan oleh
    Tuhan karena kita ini manusia. Sama dengan hak untuk
    hidup, hak untuk diperlakukan secara adil dan beradab,
    hak untuk dicintai dan mencintai. Jadi, jangan malah
    sinis atau curiga yang nggak-nggak)

    * * * *

    Ada juga yang memilih ngejomblo karena trauma.
    Misalnya, dulu pernah pacaran. Sayang banget sama doi,
    sampai-sampai segalanya sudah diberikan. Tapi eh,
    dikhianati. Doi ternyata punya kekasih lain. Sakit
    sekali. Nyerinya sampai ke sumsum tulang. Serasa
    digigit seribu ekor nyamuk demam berdarah. Atau
    (ngutip lagunya Glenn Fredly) rasanya seperti separuh
    napasku sirna. Duh! Kapok deh kapok!

    Atau, trauma karena ngelihat ortu berantem melulu.
    Nggak siang nggak malam. Mana berantemnya nggak
    kira-kira; pakai piring terbang dan makian kebun
    binatang segala. Sudah gitu, ngelihat teman yang sudah
    berumah tangga sami mawon. Barantakan pula. Malah
    sampai cerai. Jadinya takut. Daripada sengsara
    mendingan ngejomblo. Bisa bebas sebebas burung di
    udara.

    (Kita harus bersimpatik dengan orang-orang seperti
    itu. Hidup dengan trauma tuh nggak enak lho. Mereka
    adalah korban; korban sesamanya, korban lingkungannya,
    atau bahkan korban dirinya sendiri. Jadi, mbok ya
    tolong mereka. Minimal jadilah teman buat mereka.
    Jangan sampai sikap dan kata-kata kita malah tambah
    melukai).

    * * * *

    Ada juga yang ngejomblo bukan karena pilihan, tapi
    karena keadaan dan kesempatan yang belum klop. Jadi
    keinginan sih ada. Bahkan besar. Doa dan usaha juga
    sudah. Cuma ya, belum ketemu yang pas saja. :-)

    Nah, belum ketemu yang pas itu bisa karena standar
    yang ketinggian. Kebanyakan milih. Mikirnya tuh kayak
    orang mau naik bis. Yang itu kotor, malas ah. Yang ini
    nggak ada AC-nya, ogah ah. Yang ono sopirnya nggak
    meyakinkan, nggak mau ah - Ah uh ah uh terus, jadinya
    nggak naik-naik. Tetap cengo di terminal.

    Pengennya yang perfect: cakep (kalau cewek kayak
    Sophia Latjuba, kalau cowok kayak Okta eh Ari Wibowo
    ding), kaya raya (kayak James Riady), pintar (kayak
    B.J. Habibie), baik hati dan tidak sombong serta enak
    kalau di ajak ngobrol (kayak saya hehehe:) - Eit, yang
    terakhir cuma “ngecap” lho. Habis susah sih cari
    contohnya. :-) ) Ntar dikira promosi diri, bisa tambah
    pengagum. Nggak ku ku deh hehehe :) - Pokoknya yang
    ideal banget. Ya, nggak nemu-nemu. Jadinya, jomblo
    terussss.

    Bisa juga karena kurang berusaha. Lha, gimana bisa
    ketemu yang pas kalau diam di rumah terus. Nggak mau
    bergaul. Ngeharep “doi” nyamperin sendiri.
    Kucluk-kucluk datang bawa setangkai bunga (segepok
    “bunga” bank ?) dan bilang, “Hi, it’s me. Godain kita
    dong!” - Ya, ampun! Broer and sus, jodoh nggak turun
    dari langit lho. Usaha tuh kudu. Minimal
    buka peluang dong supaya mengenal dan dikenal sebanyak
    mungkin orang lain.

    Caranya? Ya, bergaullah. Ikuti aktivitas muda-mudi di
    gereja/masjid/kampus/kantor, misalnya, gabung dengan
    klub pencinta alam, atau klub apalah - yang baik,
    tentunya. Kalau perlu jadi anggota Ijo Lumut (Ikatan
    Jomblo Lucu dan Imut). Semakin banyak dikenal dan
    mengenal orang kan semakin besar kemungkinan ketemu
    yang pas.

    * * * *

    Tetapi bisa juga nggak ketemu yang pas itu karena
    “faktor x”. Alias blank. Nggak tahu kenapa. Padahal,
    “modal” sih cukuplah - tampang nggak jelek-jelak amat,
    karier lumayan, jiwa-raga sehat nggak ada gangguan
    serius. Doa, puasa dan usaha juga sudah lebih dari
    cukup. Tuntutan standar nggak macam-macam; pokoknya
    yang penting seiman, sehat jiwa-raga, dan (tentu saja)
    harus lawan jenis (habis masak sejenis?!#@#@). Cuma
    itu. Tetapi eh, koq ya tetap saja jomblo. Heran!

    Begitulah hidup. Nggak semua hal bisa dijelaskan
    dengan logika. Otak kita terlalu terbatas untuk
    mengungkap semua realitas. Ada banyak hal dalam hidup
    ini yang hanya bisa kita terima tanpa reserve. Itulah
    misteri. Misalnya: kenapa kita lahir di sini, seperti
    ini dan dari
    orang tua si Anu? Nggak tahu. Kita hanya bisa
    menerimanya.

    Jomblo juga (kadang-kadang) begitu. Kenapa sampai
    ngejomblo, nggak selalu bisa dijelaskan dengan logis.
    Pokoknya entah.

    Lalu bagaimana dong?

    Kalau suatu keadaan itu memang tidak dapat kita ubah,
    jalan terbaik - dan sehat pula - ya, kita terima saja.
    Jalani dengan legowo. Toh gerundelan, menyalahkan diri
    sendiri, uring-uringan, marah-marah, menyesali
    habis-habisan, nggak ada gunanya. Selain malah
    memperburuk keadaan.

    Paling “enak” hidup tuh mengalir sajalah. Upayakan
    yang terbaik apa pun yang harus kita lakukan,
    selebihnya terserah DIA, Sang Pemilik Kehidupan.
    Melawan arus hanya akan menimbulkan “riak-riak”
    gelombang. Kita akan capek sendiri. Buang-buang
    energi. So, go with the flow, Jomblo! Hidup JOMBLO!

    –|| seSederhana itu Segalanya ||–

    Jawaban Istikharahku

    Filed under: Artikel Nikah & RT

    eramuslim - Awalnya kupikir ini tentang memilih. Karena mereka, insya Allah, adalah ikhwan-ikhwan yang shalih. Aku mengamati perubahan mereka dan, subhanallah, mereka telah menjadi muslim yang lebih baik dari sebelumnya. Dan aku mencintai mereka karena Allah.

    Seorang dari mereka menaruh harapannya padaku. Ia ingin aku menjadi calon penghuni surga bersamanya menjadi istrinya. Hhh, akhirnya kata-kata indah yang selalu kutunggu itu terdengar juga… dari sahabatku. Sahabat terbaikku, yang sangat mengerti diriku dan akupun memahami dirinya. Dia seorang ikhwan yang baik, yang membuatku sempat berfikir bila suatu hari dia melamarku maka aku tak akan punya alasan apapun untuk menolaknya. Karena begitu baiknya dia.

    Namun pemikiran itu berubah saat seorang ikhwan yang lain datang ke dalam kehidupanku. Dialah yang mengirimkan pesan-pesan singkat dan panggilan-panggilan tak terjawab. Seseorang yang tak pernah terlintas di benakku sedikitpun, namun akhirnya mengisi ruang khusus di hatiku.

    Ia tak pernah memberi keputusan ataupun sebuah janji. Namun setiap kata darinya menyiratkan bahwa ia cenderung padaku. Wallahu’alam.

    Dia seorang yang sopan, yang sangat menghormatiku. Kebaikan akhlak serta keelokan parasnya membuatku berfikir bukanlah wanita seperti aku yang pantas baginya. Dia bagaikan seorang pangeran. Sikapnya yang sulit kutebak sungguh membuatku merasa bahwa aku hanyalah teman biasa baginya.

    Aku menjalin persahabatan dengan keduanya, tanpa sepengetahuan masing-masing dari mereka. Karena mereka pun bersahabat dekat.

    Banyak ilmu yang kudapat dari mereka. Merekalah tempat aku bertanya dan meminta nasehat, begitu pula aku bagi mereka.

    Menurutku persahabatan ini biasa saja, tidak melewati batas norma. Semuanya tentang dakwah. Namun aku merasa hubungan ini tidak bersih. Karena tidak ada persahabatan yang tidak melibatkan hati. Dan aku telah menzhalimi diriku sendiri.

    Aku ingin melepaskan diri dari mereka agar aku bisa berpikir jernih dan hatiku menjadi bersih. Aku memang ingin menikah. Tapi tidak dalam situasi seperti ini. Aku berpikir bahwa aku harus memilih salah satu dari mereka. Namun aku hanya menipu diriku sendiri.

    Setelah shalat istikharah kudirikan dengan doa agar Allah memberiku jalan yang terbaik, kupikir aku telah mendapatkan jawabannya. Karena setiap hal yang aku lakukan selalu tertuju padanya, sang pangeran.

    Sungguh aku telah memperdaya akalku dan hatiku telah lalai menempatkanNya.

    Pinangan sahabatku tidak kuterima. Walaupun bisa kubayangkan masa depanku akan cerah bersamanya. Ia menerima keputusanku dan tersadar bahwa ia telah menyia-nyiakan waktunya memikirkan aku. Dan pada saat yang sama, sang pangeran pun menyatakan keinginannya untuk melepaskan diri dariku. Ia pun tersadar telah menyia-nyiakan waktunya untukku.

    Yah, jalan itu masih panjang… dan mereka pun memilih mencintai Sang Kekasih Sejati dari pada diriku.

    Subhanallah, bagaimana aku tidak semakin mencintai mereka. Dan jelaslah, bahwa mereka berhak mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku.

    Berat bagiku menghadapi kenyataan bahwa aku telah kehilangan sahabat-sahabat terbaikku. Namun aku bersyukur mereka meninggalkan aku demi Surga yang siap menerima orang-orang yang kembali ke jalanNya.

    Dan ke sanalah pula aku akan menuju. Inilah jawaban istikharahku.

    Kembali pada Allah, yang akan selalu ada untukku. Yang tak akan pernah meninggalkanku. Yang selalu mengetahui kebutuhanku dan menyediakannya. Yang selalu mendengar keinginanku dan mengabulkannya. Yang selalu mendengar keluh kesahku dan membantuku mengatasinya. Yang selalu cemburu bila aku melupakannya walau sekejap mata. Yah, Dialah Sang Kekasih Sejati yang kusadari cintaNya meliputi seluruh alam untukku.

    Tentang jodoh. aku tak akan memusingkannya lagi. Seperti halnya takdir lahir dan takdir mati. Tak akan mundur atau maju sedetikpun. Aku yakin seseorang di luar sana telah diciptakan Allah khusus untukku. Bukankah manusia diciptakan berpasang-pasangan.

    Mungkin dia adalah salah satu dari mereka, mungkin juga bukan. Bila mereka bagiku adalah ikhwan yang baik namun tak satupun dari mereka Allah izinkan untuk menikahiku, maka aku yakin Allah telah menyiapkan ikhwan yang jauh lebih baik dari mereka untukku. Karena aku tahu Allah tak akan pernah mengecewakanku.

    Dan kudoakan semoga mereka dikaruniai istri yang shalihah yang jauh lebih baik dari yang pernah mereka bayangkan sebelumnya. Karena Allah tak akan pernah mengecewakan hamba-hambaNya.

    Haya Khadijah
    “Ya Allah aku memohon kepadaMu kecintaan kepadaMu, dan cinta kepada orang-orang yang mencintaiMu, juga kepada amal perbuatan yang akan mendekatkan diriku untuk mencintaiMu.”

    –|| seSederhana itu Segalanya ||–

    Sepatu Si Bapak Tua

    Filed under: Kehidupan

    Sepatu Si Bapak Tua
    Seorang bapak tua pada suatu hari hendak bepergian naik bus kota. Saat
    menginjakkan kakinya ke tangga, salah satu sepatunya terlepas dan jatuh ke
    jalan. Sayang, pintu tertutup dan bus segera berlari cepat. Bus ini hanya
    akan berhenti di halte berikutnya yang jaraknya
    cukup jauh sehingga ia tak dapat memungut sepatu yang terlepas tadi.

    Melihat kenyataan itu, si bapak tua itu dengan tenang melepas sepatunya
    yang sebelah dan melemparkannya ke luar jendela. Seorang pemuda yang duduk
    dalam bus tercengang, dan bertanya pada si bapak tua, ‘’Mengapa bapak
    melemparkan sepatu bapak yang sebelah
    juga?'’ Bapak tua itu menjawab dengan tenang, ‘’Supaya siapa pun yang
    menemukan sepatuku bisa memanfaatkannya.'’

    Bapak tua dalam cerita di atas adalah contoh orang yang bebas dan merdeka.
    Ia telah berhasil melepaskan keterikatannya pada benda. Ia berbeda dengan
    kebanyakan orang yang mempertahankan sesuatu semata-mata karena ingin
    memilikinya, atau karena tidak ingin orang lain memilikinya.

    Sikap mempertahankan sesuatu — termasuk mempertahankan apa yang sudah tak
    bermanfaat lagi — adalah akar dari ketamakan. Penyebab tamak adalah
    kecintaan yang berlebihan pada harta benda. Kecintaan ini melahirkan
    keterikatan. Kalau Anda sudah terikat dengan sesuatu, Anda akan
    mengidentifikasikan diri Anda dengan sesuatu itu. Anda
    bahkan dapat menyamakan kebahagiaan Anda dengan memiliki benda tersebut.
    Kalau demikian, Anda pasti sulit memberikan apapun yang Anda miliki karena
    hal itu bisa berarti kehilangan sebagian kebahagiaan Anda.

    Kalau kita pikirkan lebih dalam lagi ketamakan sebenarnya berasal dari
    pikiran dan paradigma kita yang salah terhadap harta benda. Kita sering
    menganggap harta kita sebagai milik kita. Pikiran ini salah. Harta kita
    bukanlah milik kita. Ia hanyalah titipan dan amanah yang suatu ketika harus
    dipertanggungjawabkan. Pertanggungjawaban kita adalah sejauh mana kita bisa
    menjaga dan memanfaatkannya. Peran kita dalam hidup ini hanyalah menjadi
    media dan perantara. Semuanya adalah milik Tuhan dan suatu ketika akan
    kembali kepadaNya.

    Tuhan telah menitipkan banyak hal kepada kita: harta benda, kekayaan,
    pasangan hidup, anak-anak, dan sebagainya. Tugas kita adalah menjaga amanah
    ini dengan baik, termasuk meneruskan pada siapa saja yang membutuhkannya.
    Paradigma yang terakhir ini akan membuat kita menyikapi masalah secara
    berbeda. Kalau biasanya Anda merasa terganggu begitu ada orang yang
    membutuhkan bantuan, sekarang Anda justru merasa bersyukur. Kenapa? Karena
    Anda melihat hal itu sebagai kesempatan untuk menjadi ‘’perpanjangan
    tangan'’ Tuhan. Anda tak merasa terganggu karena tahu bahwa tugas Anda
    hanyalah meneruskan ‘’titipan'’ Tuhan untuk membantu orang yang sedang
    kesulitan.

    Cara berpikir seperti ini akan melahirkan hidup yang berkelimpahruahan dan
    penuh anugerah bagi kita dan lingkungan sekitar. Hidup seperti ini adalah
    hidup yang senantiasa bertambah dan tak pernah berkurang. Semua orang akan
    merasa menang, tak ada yang akan kalah. Alam semesta sebenarnya bekerja
    dengan konsep ini, semua unsur-unsurnya bersinergi, menghasilkan kemenangan
    bagi semua pihak.

    Tapi, bukankah dalam proses memberi dan menerima ada pihak yang akan
    bertambah sementara pihak yang lain menjadi berkurang? Kalau Anda
    berpendapat demikian berarti Anda sudah teracuni konsep Zero Sum Game yang
    mengatakan kalau ada yang bertambah pasti ada yang berkurang, kalau ada
    yang untung pasti ada yang rugi, kalau ada yang menang pasti ada yang
    kalah. Padahal esensi hidup yang sebenarnya adalah menang-menang. Kalau
    kita memberi kepada orang lain, milik kita sendiri pun akan bertambah.

    Bagaimana menjelaskan fenomena ini? Ambilah contoh kasus bapak tua tadi.
    Kalau ia tetap menahan sepatunya maka tak ada pihak yang dapat memanfaatkan
    sepatu tersebut. Kondisi ini adalah kalah-kalah (loose-loose). Sebaliknya
    dengan melemparkannya, sepatu ini akan bermanfaat bagi orang lain. Lalu
    apakah si bapak tua benar-benar kehilangan? Tidak. Ia memperoleh kenikmatan
    batin karena dapat memberikan manfaat bagi orang lain. Betul, secara fisik
    ia kehilangan tetapi ia mendapatkan gantinya secara spiritual.

    Perasaan inilah yang selalu akan Anda dapatkan ketika Anda membantu orang
    lain: menolong teman yang kesulitan, memberikan uang pada pengemis di
    jalan, dan sebagainya. Kita kehilangan secara fisik tapi kita mendapatkan
    ganti yang jauh lebih besar secara spiritual.

    Sebagai penutup, ijinkanlah saya menuliskan seuntai puisi dari seorang bijak:
    ‘’Engkau tidak pernah memiliki sesuatu Engkau hanya memegangnya sebentar.
    Kalau engkau tak dapat melepaskannya, engkau akan terbelenggu olehnya. Apa
    saja hartamu, harta itu harus kau pegang dengan tanganmu seperti engkau
    menggenggam air. Genggamlah erat-erat dan harta itu lepas. Akulah itu
    sebagai milikmu dan engkau mencemarkannya. Lepaskanlah, dan semua itu
    menjadi milikmu selama-lamanya'’.

    Sumber: Sepatu Si Bapak Tua oleh Arvan Pradiansyah, pengamat kepemimpinan
    dan SDM, penulis buku You Are A Leader!






















    Get free blog up and running in minutes with Blogsome
    Theme designed by Minz Meyer