.: sEgALaNyA iTu tTg SeGaLaNyA

1 January , 2006

Film fenomenal Ttg “Bom Syahid”

Filed under: Uncategorized

“Al Jannah Al Aan”, Film Pertama Melacak Jejak Pelaku Bom Syahid di Palestina
28 Des 2005 14.04 WIB

“Dua pemuda Palestina, Saed dan Khaled, hidup di antara hari-hari yang dibalut kemiskinan dan dentum peluru serta roket. Ia adalah dua sahabat sejak kecil. Keduanya, setelah remaja juga hidup seperti teman sebayanya dengan sejumlah tradisi anak muda yang gemar duduk-duduk dan merokok.

Tapi hari-hari Saed menjadi berbeda dengan kedatangan seorang gadis cantik, Suha namanya. Suha datang untuk memperbaiki mobil ke kantor mekanik mobil yang kebetulan merupakan tempat bekerja Saed. Dalam interaksi yang tidak terlalu lama, ternyata dalam hati keduanya, tumbuh benih-benih cinta. Di tengah suasana itu, Saed tiba-tiba diberitahu oleh Jamal seorang paruh baya yang memberitahu bahwa Khaled dan dirinya telah terpilih melakukan sebuah misi khusus. Pemilihan ini terjadi karena keduanya telah saling berikrar ingin meninggal sebagai syahid dan gugur bersama.

Hari dem hari pun berganti. Hingga Saed dan Khaled mempersiapkan diri dan menunggu saat-saat itu tiba. Beberapa hari sebelum aksi dilakukan, keduanya menyampaikan pesan-pesan dalam rekaman video. Rekaman ini nantinya akan disebarluaskan ketika mereka telah menjanlani aksi syahid. Mereka juga sempat menjalani proses ‘pemandian’ sebagai tradisi yang umum berlaku di kalangan pejuang Palestina, sebelum mereka gugur.

Ketika menghabiskan malam terakhir dengan keluarganya, keduanya sempat resah. Dalam pikirannya berkecamuk mencari cara bagaimana menyampaikan rencana perjuangan yang akan mereka lakukan kepada keluarganya? Bagaimanapun tak boleh ada orang yang mengetahui rencana itu. Saed menyempatkan diri menyelinap menemui Suha untuk terakhir kalinya.

Pada pagi keesokan harinya, mereka pergi ke perbatasan. Bom sudah melekat di tubuh mereka yang dilapisi rompi. Aksi mereka pun difilmkan dari jauh oleh pejuang yang lain. Tapi rupanya aksi pemboman tidak berlangsung mulus sesuai rencana, sehingga keduanya terpisah. Disinilah perjalanan mereka dimulai, saat takdir mulai mengambil alih, saat mereka terlingkupi berbagai masalah, saat mereka harus mempertahankan keyakinan mereka. . . .”


Film Drama Perjuangan Palestina yang Banyak Menerima Penghargaan

Kisah di atas adalah sinopsis film tentang proses perjalanan eksekutor bom syahid yang baru saja diputar di sejumlah negara Timur Tengah beberapa bulan terakhir. Film yang berjudul “Al Jannah Al Aan” sebenarnya juga sudah bisa dinikmati dalam teks berbahasa Inggris dengan judul “Paradise Now.” Film itu bercerita tentang perjalanan dua pelaku bom syahid yang diproduksi oleh Hany Abu Assad.

Assad bukan orang baru dalam dunia film perjuangan Palestina. Ia sudah masuk ke dunia film dan pertelevisian dan membuat program televisi yang bercerita tentang imigran dan film dokumenterlainnya seperti “Dar O Dar” di channel 4 dan “Long Days in Gaza” di BBC. Tahun 1992, Abu Assad membuat film pertamanya “Paper House.” Film ini berkisah tentang anak laki laki Palestina berusia 13 tahun yang ingin membangun kembali rumahnya yang telah dihancurkan. “Paper House” di tayangkan oleh televisi Belanda NOS dan memenangkan beberapa penghargaan internasional pada festival film.

Menurut Assad, ide film Al Jannah Al Aan muncul karena setiap hari ia mendengar serangan demi serangan yang dilakukan pejuang Palestina di koran-koran. Awalnya ia berpikir sederhana bahwa tindakan itu adalah tindakan ekstrem sebagaimana yang banyak dipikirkan semua orang. Tapi lama kelamaan, ia juga berpikir bagaimana mungkin seseorang mampu melakukan hal seperti itu? Bagaimana mereka meyakini dan membenarkan hal itu? Bagaimana dengan keluarga mereka? Dari sanalah kemudian Assad mengerti bahwa ada banyak hal yang tidak diketahui publik apa yang terjadi sebenarnya.

“Lantas saya mempelajari transkip para pejuang yang gagal menjalankan bom syahid. Saya mempelajari laporan resmi Israel, saya berbicara dengan orang orang yang dekat dengan para syuhada itu, keluarga dan ibunya untuk menghayati situasinya,” kata Assad.

Film ini didukung oleh kru yang berasal dari 50 orang Palestina, Belanda (3 orang termasuk artis pemeran Suha, Lubna Azabal), Jerman (14 orang), Perancis (4 orang, termasuk kameramen, Antonie Heberle), Belgia, Israel (10 orang), dan Amerika (1 orang). Dengan durasi 1 jam 30 menit, film ini awalnya mengundang kontroversi, terutama saat pembuatannya. Hany Abu Assad mengaku, dalam sejumlah pengambilan gambar pihaknya selalu was -was karena ada kelompok pejuang yang menolak pembuatan film tentang pelaku bom syahid. Meski ada sebagian lain yang memandang film tersebut akan turut memberi informasi pada masyarakat dunia tentang logika bom syahid yang mereka lakukan selama ini.
Film ini dianggap sebagai film pertama yang menyajikan prosesi pelaku bom syahid di Palestina. Dalam film ini ada cuplikan aksi-aksi syahid yang direkam secara sederhana oleh sejumlah organisasi pejuang Palestina seperti Batalyon Izzuddin Al Qassam.Lebih dari itu,film ini menyajikan proses demi proses pelaku bom syahid, menjadi satu kesatuan yang lengkap. Tidak heran, film ini menyedot banyak pengunjung dan antara lain mendapat penghargaan sebagai Best Europan Film, Amnesty International Film Award dan Nederlands Film Festival Award.
.
Syuting di Antara Desing Peluru, Dentuman Bom dan Penyanderaan

Banyak pernak pernik proses pengambilan gambar langsung dari Palestina sebagai lokasi konflik ini untuk memadukan kenyataan pahit keseharian Muslim Palestina akibat pendudukan Israeldan bagaimana respon perjuangan tumbuh dalam jiwa orang Palestina. Bahkan, masih menurut Assad sang produser, sejumlah pengambilan gambar dilakukan malam hari, sementara pada saat yang sama di sejumlah desa Palestina yang menjadi lokasi shooting, diterapkan peraturan jam malam. Ketika itu, hanya sedikit personil film yang ikut dalam pengambilan gambar.

Nablus, salah satu lokasi yang menjadi markas pejuang Palestina, juga menjadi lokasi pengambilan gambar. “Terus terang saat melihat kembali film itu, kami sendiri sulit membayangkan apakah ini sebuah film atau informasi dokumenter, karena film ini benar-benar bisa menggambarkan hidup dan mati di jalan-jalan Nablus,” ujar Assad. Nablus memang memiliki nilai tersendiri dalam proses pembuatan film ini. Assad menceritakan, untuk dapat masuk ke Nablus, kru film harus menjalin hubungan baik dengan tentara Israel. “Tapi untuk survive di tempat itu, kami juga harus bekerja sama dengan orang Palestina. Sungguh, ini sangat sulit. Bagi orang Palestina, kami sangat mencurigakan, bagaimana mungkin kami bekerja dengan begitu banyak orang dan material? Semua orang ingin membaca naskah kami dan banyak dari mereka yang tidak memahaminya sehingga berakhir pada kesimpulan yang berbeda beda.”

Di Nablus, tentara Israel yang menduduki Palestina hampir setiap hari melakukan operasi penangkapan penduduk Palestina. Invasi tentara Israel, baik tank tank yang melintasi Nablus, serangan roket dan tembakan senjata di pagi hari menjadi sarapan rutin. “Kami harus melaporkan banyak hal kepada pejuang Palestina tanpa sepengetahuan tentara Israel. Mereka tidak boleh tahu bahwa kami melakukan kontak dengan pejuang Palestina,” ujar Assad.

Inilah situasi dilematisnya. Berdiri di pihak Palestina berarti menentang Israel dan sebaliknya. Situasi ini bahkan memunculkan rumor bahwa kami anti bom syahid, hingga membuat Hasan Titi, manager lokal pembuatan film ini sempat diculik dan semua kru film diminta meninggalkan Nablus oleh pejuang Palestina.

Suatu hari, ketika misil Israel menyerang sebuah desa di Nablus, seorang pria bersenjata menyuruh seluruh kru film pergi. “Kami tidak menyalahkan mereka. Hidup mereka lebih penting dari sekedar film. Situasi semakin berbahaya. Kami semakin dekat dengan perang yang sesungguhnya. Ketika kami mendengar suara tembakan, kami pergi ke tempat lain, namun kami tidak melihat satu pelurupun. Hal ini justru lebih mengerikan daripada perang yang terang terangan. Semua ini memunculkan sebuah dilema lain pada kami; Bagaimana cara kami membebaskan lokal manager kami? Bagaimana cara kami bersahabat dengan orang Palestina tanpa diketahui tentara Israel sehingga Israel tidak mengganggap kami bagian dari mereka? Bagaimana menghindari serangan serangan itu?”

Dalam situasi terjepit seperti itu, Assad akhirnya berinsiatif untuk melakukan komunikasi dengan Yasser Arafat yang kala itu masih hidup. Assad mengaku belum pernah bertemu dengan Arafat dan diapun tidak pernah melihat film yang tengah ia garap. Namun ternyata, komunikasi itu efektif karena dua jam setelah komunikasi dilakukan, manager lokal dibebaskan.

Permasalahannya tidak cukup sampai di situ. Karena saat itu, Assad justru mengalami dilema baru; Pergi dari Nablus atau tinggal di Nablus? Jika pergi berarti meninggalkan Hassan dan lokal kru lain dalam masalah besar. Jika tinggal, maka ia dan rekan-rekannya harus bekerja dalam zona perang. “Akhirnya saya memutuskan untuk tinggal di Nablus karena tidak punya pilihan lain,” kata Assad. Tapi masalah lain datang, produser film Bero Beyer ingin mengakhiri pembuatan film yang sudah sebagian berjalan. Akhirnya setelah melewati perdebatan panjang, Assad memutuskan untuk melakukan kampanye di kota agar menghentikan rumor yang beredar, tanpa mengecewakan tentara Israel. Sementara itu lokal dan international jurnalis mulai ramai mencari berita penculikan Hassan. Kami meminta mereka menunggu karena kami takut dengan konsekwensinya.

“Kelihatannya setiap kali kami maju selangkah, kami justru terdorong mundur dua langkah. Setiap rencana yang kami buat justru membuat semuanya lebih kacau,” cerita Assad.

Tiga minggu kemudian mereka bekerja lagi, di bawah tekanan besar dengan rencana semula; membuat sebuah film. Terjadilah ledakkan bom yang hanya berjarak 300 meter dari lokasi syuting. “Kami berlari kesana, dan mendapati mayat 3 pemuda di tempat kami semalam mengambil gambar. Lubna Azabal pingsan, jadi meskipun kami ingin melanjutkan shooting, kini kami tidak memiliki pilihan lain. Kami harus pergi. Kami memutuskan untuk pindah lokasi ke kota kelahiran saya, Nazareth dan meninggalkan Nablus.”

Film ini mengambil gambar dari lokasi nyata. Hingga ketika Ali Suliman pemeran Saed harus berdiri dengan pejuang Palestina sungguhan, ia begitu gugup sehingga tidak perlu berakting lagi. “Kami semua juga gugup karena di sekitar kami, organisator asli sedang melihat kami, semua kru dan aktor gugup,” kenang Assad. Setelah selesai adegan pertama, dimana Ali menyampaikan pesan, salah satu pejuang mendatangi dan menghentikan seluruh kegiatan kru film. Assad berpikir, “Semua akan berakhir disini, semua sudah berakhir.” Tapi ternyata, pejuang itu hanya ingin menunjukkan pada Ali cara memegang senjata yang benar.

Sejumlah besar pengambilan gambar yang kebetulan dilakukan di siang hari, biasanya selalu dipenuhi oleh anak-anak Palestina yang ikut menonton. Sebagian masyarakat bahkan ada yang melakukan penyambutan saat kedatangan kru film. Itu karena mereka sebagian memang memandang bahwa apa yang diceritakan dari film itu kelak akan mendorong proses kemerdekaan seperti yang mereka harapkan. Di kalangan masyarakat Palestina juga banyak yang menganggap pelaku aksi bom syahid adalah pahlawan bagi kemerdekaan mereka. Abu Assad mengakui proses pembuatan film ini sendiri sempat beberapa kali membuatnya menitikkan air mata. “Film ini menyentuh perasaan. Ini benar-benar film kemanusiaan,” katanya. (aulia/dari berbagai sumber)

Hany Abu-Assad Direktur, Sutradara sekaligus Produser Film

Film Karya Hany Abu Assad
1. Paradise Now (2005)
2. Al Qods Fee Yom Akhar (2002)
3. Ford Transit (2002)
4. Nazareth 2000 (2000)
5. 14e kippetje, Het (1998)

Source here !

Bila Waktunya tlah tiba

Bila Waktunya Telah Tiba
Oleh: Abdulloh bin Mas’ud
29 Des 2005 12.12 WIB

Masih terngiang di telinga saya teriakan-teriakannya yang berusaha mencuri perhatian, gaya-gayanya yang mengundang gelak tawa, atau pertanyaan-pertanyaanya yang sangat berbeda dengan anak-anak usia sebayanya, aktifitasnya yang lincah, bahkan tidak sedetik pun diam kecuali di situ dia mengerjakan satu permainan. Terkadang saya dibuatnya terheran-heran atas kecerdasannya melihat sebuah persoalan. Sampai suatu saat ketika ayahnya ’tidak pulang’ selama 2 hari, dia berkata-kata dengan tembok, ”Kok ayah ndak pulang ya, apa ayah marah sama saya, Ma”. Sangat lucu.

Ya, dia adalah putra dan putri sahabat saya. Keluarga muda yang hidup penuh kesederhanaan, kearifan dan kesabaran mengahadapi setiap masalah. Sebuah keluarga yang selalu menjadikan keimanan dan ketakwaan dalam melandasi setiap pemecahan problem tak terkecuali terhadap anak-anak mereka.

Sabtu yang lalu, saya berkunjung ke rumahnya. Di kawasan sekitar perumahan Tidar. Waktu itu tujuan saya berkunjung yang pertama adalah silaturahmi, kedua saya memang ingin berkenalan dengan putra putrinya yang setiap hari saya lihat di layar chating-nya, ketiga saya ingin belajar kepadanya karena dalam waktu dekat ini saya akan melangsungkan pernikahan, jadi sebagai studi banding untuk kehidupan keluarga yang akan saya bina kelak.

Saya tiba di rumahnya sekitar jam 14.15 WIB. Biasanya jam ’segitu’ saya masih asyik dengan tut-tut di papan keyboard saya. Tapi karena hari itu Sabtu, saya kerja setengah hari saja, sehingga waktu yang tersisa saya manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Sejak pertama kali saya menginjakkan kaki di rumahnya, saya disambut oleh ’ocehan’ anak pertamanya yang sangat luar biasa. Saya katakan luar biasa karena umumnya anak seusianya cenderung menutup diri dengan kehadiran orang-orang asing di sekitarnya. Tapi tidak dengan anak ini, ia begitu berani menunjukkan eksistensi dirinya di hadapan saya, dengan gayanya khas anak-anak, ia berbicara ’melebihi ambang batas’ karena memang demikianlah anak-anak, suka mencuri perhatian orang asing dan saya hanya tersenyum senang melihatnya. Muhammad Husein Haekal namanya, sungguh indah. Saya sempat teringat dengan nama seorang pengarang buku Sirah Nabi dan buku-buku ke-Islaman lainnya ”Muhammad Khair Haekal”. Semoga kelak engkau seperti beliau atau bahkan melebihinya.

Tanpa terasa, waktu menunjukkan pukul 15.00, saatnya Haekal harus mengaji Al-Quraan di sebuah TPQ yang tidak jauh dari rumahnya. Tanpa ba bi bu dan beralasan, ketika mamanya mengajaknya mandi, subhanallah, ia langsung mengerjakannya dan begitu penurut. Sampai akhirnya ia berangkat. Selang beberapa waktu, bidadari kecil sahabat saya terbangun dari mimpinya yang indah, Hafshah dia punya nama. Namun ia masih malu-malu menyambut kehadiran saya, maklum, biasanya bangun tidur memang demikian adanya, tak terkecuali orang dewasa. Tapi saya tetap berusaha agar dia menerima kehadiran saya dan lambat laun kontak kami mulai ada meskipun sang putri malu masih menghinggapi dirinya.

Kebetulan hari itu hujan rintik-rintik, saat yang tepat untuk makan yang hangat-hangat. Alhamdulillah, penjual tahu campur lewat. Sahabat saya pesan dua mangkok besar, satu untuk saya dan satunya untuk dirinya sendiri. Tapi bukan tahu campur dan mangkok besarnya yang menjadi perhatian saya, tapi saat kami makan yang bikin saya cemburu dan iri bahkan ingin segera meraihnya. Ya…, dia begitu kasih, begitu sayang menyuapi sang bidadari kecilnya. Ya Allah, berikanlah saya keluarga yang di dalamnya ada cinta, kasih dan kemesraan yang bersemi indah. Berikan saya buah hati yang dengannya hati kami semakin dekat dengan_Mu, memuji akan Kebesaran_Mu dan syukur atas Karunia_Mu.

Akhirnya waktu menunjukkan pukul 16.00 WIB, saatnya Haekal pulang dari mengaji. Ia pulang membawa oleh-oleh untuk dirinya dan adiknya. Saya lihat mereka begitu rukun, saling berbagi dengan makanan yang sama, kuning telur puyuh dengan sedikit saus dan kecap dalam sebuah plastik kecil, 500 rupiah harganya.

Saat itu mulailah saya melihat sepasang ’atlet’ mulai beraksi. Locat sana sini, naik sana sini, terkadang tiduran di lantai, naik sepeda pancal, mobil-mobilan dengan mouse, naik motor untuk ojek-ojekan, main plorotan di busa kasur dan banyak lagi yang lainnya. Capekkah mereka, tentu jawabannya tidak. Karena memang sesusia mereka adalah masa-masa aktifnya, masa-masa emas untuk menanamkan pelajaran dan pengetahuan karena kebersihan hati dan otaknya. Saya pun sampaikan ke sahabat saya ”Mas, anak kecil itu kebalikan dari orang tua. Kalo anak kecil lincah dan gesit berarti dia sehat, kalo diam saja berarti dia lagi sakit. Beda dengan orang tua, kalo ada orang tua lincah dan gesit berati dia lagi sakit, tapi kalo diam dan tidak banyak ’tingkah’ berarti dia sehat.”

Waktu pulang pun tiba karena memang tidak ada rencana untuk menginap. Saya berpamitan kepada semua anggota keluarga sahabat saya. Dalam perjalanan pulang, suatu keanehan menghinggapi diri saya, rindu dalam dada saya seolah-olah memuncak, perasaan saya seolah tak ingin jauh dari mereka berdua, Haekal & Hafshah. Bahkan sebelum sampai di rumah, saya mampir ke sebuah wartel untuk menelpon ke rumah sang sahabat. Saya ingin mendengar suara-suara lucu mereka, jawaban-jawaban polos yang mereka berikan seakan menambah besar kerinduan ini.

Ya Allah, sudah waktunya kah saya? Sudahkah saya harus bersiap diri untuk menerima amanah darimu? Sudah waktunya kah saya membangun dan membina sebuah keluarga yang di dalamnya ada sakinah, mawaddah dan rahmah? Keluarga yang menjadikan setiap orang bahagia ketika melihatnya. Keluarga yang akan menguatkan dan memperteguh perjuangan ini. Keluarga yang akan menjadi tameng bagi kami untuk terhindar dari kemaksiatan kepada-Mu?

Ya Allah, jika benar dugaan kami sebagai seorang hamba, maka berikanlah Ya Allah bagi kami kemudahan untuk meraihnya, tunjukkan kami jalan yang lurus untuk menggapainya, bimbinglah hati kami senantiasa agar keluarga yang kami miliki menjadi keluarga teladan sebagaimana keluarga yang dimiliki oleh junjungan kami, Rasulullah Muhammad SAW. Jadikanlah keluarga kami menjadi penerang hati kami dikala kami tersesat dari jalan-Mu. Jadikanlah keluarga kami menjadi jalan untuk meraih surga-Mu, bukan menjadi jalan bagi kami untuk terjerumus ke dalam neraka-Mu.

Wahai sahabat, marilah bersama-sama kita membangun keluarga kita dengan landasan agama. Kita jadikan keluarga kita sebagai wasilah untuk saling menasehati dikala diri terjerembab dalam lubang kelalaian. Karena istri & anak-anak kita merupakan amanah dari Allah yang harus senantiasa kita jaga. Sekali lagi, mari kita jadikan keluarga kita sebagai keluarga Sakinah, Mawaddah Wa Rahmah. Amin
sazad_5atyahoodotcom

Thread : < a href="http://eramuslim.com/i.php/atk/view/6.htm">here






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer