.: sEgALaNyA iTu tTg SeGaLaNyA

16 January , 2006

Cara berpikir org sukses

Filed under: Kehidupan, Bisnis

CARA BERPIKIR ORANG SUKSES

“Successful people think differently than unsuccessful people”
Ungkapan ini berusaha menjelaskan bahwa perbedaan utama antara orang sukses dan orang gagal ada pada cara berpikirnya. Mereka yang sukses adalah mereka yang selalu menggunakan kekuatan berpikir untuk terus memperbaiki hidupnya sehingga lebih baik.
Orang-orang yang sukses ini adalah mereka yang memiliki tipe berpikir positif. Tipe berpikir orang-orang sukses ini adalah:

  • 1.Big picture thinking bukan small thinking
    Cara berpikir ini menjadikan mereka terus belajar, banyak mendengar dan terfokus sehingga cakrawala mereka menjadi luas.
  • 2.Focused thinking bukan scattered thinking
    Sehingga dapat menghemat waktu dan energi, loncatan-locatan besar dapat mereka raih.
  • 3.Creative thinking bukan restrictive thinking Proses berpikir kreatif ini meliputi:think-collect-create-correct-connect.
  • 4.Realistic thinking bukan fantasy thinking
    Memungkinkan mereka meminimalkan risiko, ada target & plan, security, sebagai Katalis dan memiliki Kredibilitas.
  • 5.Strategic thinking bukan random thinking
    Sehingga simplifies, customize, antisipatif, reduce error and influence other dapat dilakukan.
  • 6.Possibility thinking bukan limited thinking
    Mereka dapat berpikir bebas dan menemukan solusi bagi situasi yang dihadapi.
  • 7.Reflective thinking bukan impulsive thinking Memungkinkan mereka memiliki integritas, clarify big picture, confident
    decision making.
  • 8.Innovative thinking bukan popular thinking
    Menghindari cara berpikir yang awam untuk meraih sesuatu yang lebih baik.
  • 9.Shared thinking bukan solo thinking
    Berbagi pemikiran dengan orang lain untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.
  • 10.Unselfish thinking bukan selfish thinking
    Memungkinkan mereka berkolaborasi dengan pemikian orang lain.
  • 11.Bottom line thinking bukan wishful thinking
    Berfokus pada hasil sehingga dapat meraih hasil berdasarkan potensi pemikiran yang dimiliki.
  • –|| seSederhana itu Segalanya ||–

    Beginilah seharusnya

    Filed under: Kehidupan, Ruhani

    Beginilah Seharusnya

    Dua orang bersaudara bekerja bersama menggarap ladang milik keluarga mereka. Yang seorang, si kakak, telah menikah, dan memiliki keluarga yang cukup besar. Si adik masih lajang, dan berencana tidak menikah. Ketika musim panen tiba, mereka selalu membagi hasil sama rata. Selalu begitu.

    Pada suatu hari, si adik yang masih lajang itu berpikir, “Tidak adil jika kami membagi rata semua hasil yang kami peroleh. Aku masih lajang dan kebutuhanku hanya sedikit.” Maka, demi si kakak, setiap malam, dia akan mengambil sekarung padi miliknya, dan dengan diam-diam, meletakkan karung itu di lumbung milik kakaknya. Sekarung itu ia anggap cukuplah untuk mengurangi beban si kakak dan keluarganya.

    Sementara itu, si kakak yang telah menikah pun merasa gelisah akan nasib adiknya. Ia berpikir, “Tidak adil jika kami selalu membagi rata semua hasil yang kami peroleh. Aku punya istri dan anak-anak yang akan mampu merawatku kelak ketika tua. Sedangkan adikku, tak punya siapa-siapa, tak akan ada yang peduli jika nanti dia tua dan miskin. Ia berhak mendapatkan hasil lebih daripada aku.”

    Karena itu, setiap malam, secara diam-diam, ia pun mengambil sekarung padi dari lumbungnya, dan memasukkan ke lumbung mulik adik satu-satunya itu. Ia berharap, satu karung itu dapatlah mengurangi beban adiknya, kelak.

    Begitulah, selama bertahun-tahun kedua bersaudara itu saling menyimpan rahasia. Sementara padi di lumbung keduanya tak pernah berubah jumlah. Sampai…, suatu malam, keduanya bertemu, ketika sedang memindahkan satu karung ke maring-masing lumbung saudaranya. Di saat itulah mereka sadar, dan saling menangis, berpelukan. Mereka tahu, dalam diam, ada cinta yang sangat dalam yang selama ini menjaga persaudaraan mereka. Ada harta, yang justru menjadi perekat cinta, bukan perusak. Demikianlah jika bersaudara.

    –|| seSederhana itu Segalanya ||–

    Jomblo

    Katakan Jomblo Sejujurnya
    Oleh Ayub Yahya(dengan penyesuaian seperlunya)

    Ada banyak alasan kenapa orang ngejomblo. Ada yang
    karena memang sudah pilihan. Jadi kesempatan sih ada.
    Kesiapan mental, spiritual dan material juga oke. Cuma
    ya, nggak mau saja. No way-lah.

    Nah, nggak maunya itu bisa karena ingin konsen dengan
    studi atau karier. Nggak mau diganggu dengan segala
    urusan tetek dan bengek. Bisa karena ingin total
    mengabdi panggilan pelayanan. Misalnya, ngurusin anak
    jalanan, atau pergi ke daerah terpencil dan melayani
    suku terasing di sana.

    Atau bisa juga karena ingin setia menanti cinta “sang
    tambatan hati”. Biar pun doi sudah punya “gandengan”
    (emangnya truk) alias tidak sendiri lagi. Prinsipnya
    sebelum “janur melengkung” (merit maksudnya) penantian
    jalan terus. Bahkan, andaikan pun nanti sang janur
    akhirnya melengkung juga: “Ku tunggu jandamu!” (kalau
    cewek, ya “Ku tunggu dudamu!”).
    Pokoknya, seperti lagunya Meriam Bellina: “Ku tutup
    pintu hati untuk semua cinta walau batin ini
    menjerit… hiks!” Lha habis gimana, sudah cinta
    setengah mati setengah hidup sama die. Nggak bisa
    pindah ke lain hati.

    (Apa pun alasan orang memilih ngejomblo, kita perlu
    ngehargainya. Ngejomblo atau tidak toh itu hak asasi
    setiap orang. Hak asasi berarti hak itu diberikan oleh
    Tuhan karena kita ini manusia. Sama dengan hak untuk
    hidup, hak untuk diperlakukan secara adil dan beradab,
    hak untuk dicintai dan mencintai. Jadi, jangan malah
    sinis atau curiga yang nggak-nggak)

    * * * *

    Ada juga yang memilih ngejomblo karena trauma.
    Misalnya, dulu pernah pacaran. Sayang banget sama doi,
    sampai-sampai segalanya sudah diberikan. Tapi eh,
    dikhianati. Doi ternyata punya kekasih lain. Sakit
    sekali. Nyerinya sampai ke sumsum tulang. Serasa
    digigit seribu ekor nyamuk demam berdarah. Atau
    (ngutip lagunya Glenn Fredly) rasanya seperti separuh
    napasku sirna. Duh! Kapok deh kapok!

    Atau, trauma karena ngelihat ortu berantem melulu.
    Nggak siang nggak malam. Mana berantemnya nggak
    kira-kira; pakai piring terbang dan makian kebun
    binatang segala. Sudah gitu, ngelihat teman yang sudah
    berumah tangga sami mawon. Barantakan pula. Malah
    sampai cerai. Jadinya takut. Daripada sengsara
    mendingan ngejomblo. Bisa bebas sebebas burung di
    udara.

    (Kita harus bersimpatik dengan orang-orang seperti
    itu. Hidup dengan trauma tuh nggak enak lho. Mereka
    adalah korban; korban sesamanya, korban lingkungannya,
    atau bahkan korban dirinya sendiri. Jadi, mbok ya
    tolong mereka. Minimal jadilah teman buat mereka.
    Jangan sampai sikap dan kata-kata kita malah tambah
    melukai).

    * * * *

    Ada juga yang ngejomblo bukan karena pilihan, tapi
    karena keadaan dan kesempatan yang belum klop. Jadi
    keinginan sih ada. Bahkan besar. Doa dan usaha juga
    sudah. Cuma ya, belum ketemu yang pas saja. :-)

    Nah, belum ketemu yang pas itu bisa karena standar
    yang ketinggian. Kebanyakan milih. Mikirnya tuh kayak
    orang mau naik bis. Yang itu kotor, malas ah. Yang ini
    nggak ada AC-nya, ogah ah. Yang ono sopirnya nggak
    meyakinkan, nggak mau ah - Ah uh ah uh terus, jadinya
    nggak naik-naik. Tetap cengo di terminal.

    Pengennya yang perfect: cakep (kalau cewek kayak
    Sophia Latjuba, kalau cowok kayak Okta eh Ari Wibowo
    ding), kaya raya (kayak James Riady), pintar (kayak
    B.J. Habibie), baik hati dan tidak sombong serta enak
    kalau di ajak ngobrol (kayak saya hehehe:) - Eit, yang
    terakhir cuma “ngecap” lho. Habis susah sih cari
    contohnya. :-) ) Ntar dikira promosi diri, bisa tambah
    pengagum. Nggak ku ku deh hehehe :) - Pokoknya yang
    ideal banget. Ya, nggak nemu-nemu. Jadinya, jomblo
    terussss.

    Bisa juga karena kurang berusaha. Lha, gimana bisa
    ketemu yang pas kalau diam di rumah terus. Nggak mau
    bergaul. Ngeharep “doi” nyamperin sendiri.
    Kucluk-kucluk datang bawa setangkai bunga (segepok
    “bunga” bank ?) dan bilang, “Hi, it’s me. Godain kita
    dong!” - Ya, ampun! Broer and sus, jodoh nggak turun
    dari langit lho. Usaha tuh kudu. Minimal
    buka peluang dong supaya mengenal dan dikenal sebanyak
    mungkin orang lain.

    Caranya? Ya, bergaullah. Ikuti aktivitas muda-mudi di
    gereja/masjid/kampus/kantor, misalnya, gabung dengan
    klub pencinta alam, atau klub apalah - yang baik,
    tentunya. Kalau perlu jadi anggota Ijo Lumut (Ikatan
    Jomblo Lucu dan Imut). Semakin banyak dikenal dan
    mengenal orang kan semakin besar kemungkinan ketemu
    yang pas.

    * * * *

    Tetapi bisa juga nggak ketemu yang pas itu karena
    “faktor x”. Alias blank. Nggak tahu kenapa. Padahal,
    “modal” sih cukuplah - tampang nggak jelek-jelak amat,
    karier lumayan, jiwa-raga sehat nggak ada gangguan
    serius. Doa, puasa dan usaha juga sudah lebih dari
    cukup. Tuntutan standar nggak macam-macam; pokoknya
    yang penting seiman, sehat jiwa-raga, dan (tentu saja)
    harus lawan jenis (habis masak sejenis?!#@#@). Cuma
    itu. Tetapi eh, koq ya tetap saja jomblo. Heran!

    Begitulah hidup. Nggak semua hal bisa dijelaskan
    dengan logika. Otak kita terlalu terbatas untuk
    mengungkap semua realitas. Ada banyak hal dalam hidup
    ini yang hanya bisa kita terima tanpa reserve. Itulah
    misteri. Misalnya: kenapa kita lahir di sini, seperti
    ini dan dari
    orang tua si Anu? Nggak tahu. Kita hanya bisa
    menerimanya.

    Jomblo juga (kadang-kadang) begitu. Kenapa sampai
    ngejomblo, nggak selalu bisa dijelaskan dengan logis.
    Pokoknya entah.

    Lalu bagaimana dong?

    Kalau suatu keadaan itu memang tidak dapat kita ubah,
    jalan terbaik - dan sehat pula - ya, kita terima saja.
    Jalani dengan legowo. Toh gerundelan, menyalahkan diri
    sendiri, uring-uringan, marah-marah, menyesali
    habis-habisan, nggak ada gunanya. Selain malah
    memperburuk keadaan.

    Paling “enak” hidup tuh mengalir sajalah. Upayakan
    yang terbaik apa pun yang harus kita lakukan,
    selebihnya terserah DIA, Sang Pemilik Kehidupan.
    Melawan arus hanya akan menimbulkan “riak-riak”
    gelombang. Kita akan capek sendiri. Buang-buang
    energi. So, go with the flow, Jomblo! Hidup JOMBLO!

    –|| seSederhana itu Segalanya ||–

    Jawaban Istikharahku

    Filed under: Artikel Nikah & RT

    eramuslim - Awalnya kupikir ini tentang memilih. Karena mereka, insya Allah, adalah ikhwan-ikhwan yang shalih. Aku mengamati perubahan mereka dan, subhanallah, mereka telah menjadi muslim yang lebih baik dari sebelumnya. Dan aku mencintai mereka karena Allah.

    Seorang dari mereka menaruh harapannya padaku. Ia ingin aku menjadi calon penghuni surga bersamanya menjadi istrinya. Hhh, akhirnya kata-kata indah yang selalu kutunggu itu terdengar juga… dari sahabatku. Sahabat terbaikku, yang sangat mengerti diriku dan akupun memahami dirinya. Dia seorang ikhwan yang baik, yang membuatku sempat berfikir bila suatu hari dia melamarku maka aku tak akan punya alasan apapun untuk menolaknya. Karena begitu baiknya dia.

    Namun pemikiran itu berubah saat seorang ikhwan yang lain datang ke dalam kehidupanku. Dialah yang mengirimkan pesan-pesan singkat dan panggilan-panggilan tak terjawab. Seseorang yang tak pernah terlintas di benakku sedikitpun, namun akhirnya mengisi ruang khusus di hatiku.

    Ia tak pernah memberi keputusan ataupun sebuah janji. Namun setiap kata darinya menyiratkan bahwa ia cenderung padaku. Wallahu’alam.

    Dia seorang yang sopan, yang sangat menghormatiku. Kebaikan akhlak serta keelokan parasnya membuatku berfikir bukanlah wanita seperti aku yang pantas baginya. Dia bagaikan seorang pangeran. Sikapnya yang sulit kutebak sungguh membuatku merasa bahwa aku hanyalah teman biasa baginya.

    Aku menjalin persahabatan dengan keduanya, tanpa sepengetahuan masing-masing dari mereka. Karena mereka pun bersahabat dekat.

    Banyak ilmu yang kudapat dari mereka. Merekalah tempat aku bertanya dan meminta nasehat, begitu pula aku bagi mereka.

    Menurutku persahabatan ini biasa saja, tidak melewati batas norma. Semuanya tentang dakwah. Namun aku merasa hubungan ini tidak bersih. Karena tidak ada persahabatan yang tidak melibatkan hati. Dan aku telah menzhalimi diriku sendiri.

    Aku ingin melepaskan diri dari mereka agar aku bisa berpikir jernih dan hatiku menjadi bersih. Aku memang ingin menikah. Tapi tidak dalam situasi seperti ini. Aku berpikir bahwa aku harus memilih salah satu dari mereka. Namun aku hanya menipu diriku sendiri.

    Setelah shalat istikharah kudirikan dengan doa agar Allah memberiku jalan yang terbaik, kupikir aku telah mendapatkan jawabannya. Karena setiap hal yang aku lakukan selalu tertuju padanya, sang pangeran.

    Sungguh aku telah memperdaya akalku dan hatiku telah lalai menempatkanNya.

    Pinangan sahabatku tidak kuterima. Walaupun bisa kubayangkan masa depanku akan cerah bersamanya. Ia menerima keputusanku dan tersadar bahwa ia telah menyia-nyiakan waktunya memikirkan aku. Dan pada saat yang sama, sang pangeran pun menyatakan keinginannya untuk melepaskan diri dariku. Ia pun tersadar telah menyia-nyiakan waktunya untukku.

    Yah, jalan itu masih panjang… dan mereka pun memilih mencintai Sang Kekasih Sejati dari pada diriku.

    Subhanallah, bagaimana aku tidak semakin mencintai mereka. Dan jelaslah, bahwa mereka berhak mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku.

    Berat bagiku menghadapi kenyataan bahwa aku telah kehilangan sahabat-sahabat terbaikku. Namun aku bersyukur mereka meninggalkan aku demi Surga yang siap menerima orang-orang yang kembali ke jalanNya.

    Dan ke sanalah pula aku akan menuju. Inilah jawaban istikharahku.

    Kembali pada Allah, yang akan selalu ada untukku. Yang tak akan pernah meninggalkanku. Yang selalu mengetahui kebutuhanku dan menyediakannya. Yang selalu mendengar keinginanku dan mengabulkannya. Yang selalu mendengar keluh kesahku dan membantuku mengatasinya. Yang selalu cemburu bila aku melupakannya walau sekejap mata. Yah, Dialah Sang Kekasih Sejati yang kusadari cintaNya meliputi seluruh alam untukku.

    Tentang jodoh. aku tak akan memusingkannya lagi. Seperti halnya takdir lahir dan takdir mati. Tak akan mundur atau maju sedetikpun. Aku yakin seseorang di luar sana telah diciptakan Allah khusus untukku. Bukankah manusia diciptakan berpasang-pasangan.

    Mungkin dia adalah salah satu dari mereka, mungkin juga bukan. Bila mereka bagiku adalah ikhwan yang baik namun tak satupun dari mereka Allah izinkan untuk menikahiku, maka aku yakin Allah telah menyiapkan ikhwan yang jauh lebih baik dari mereka untukku. Karena aku tahu Allah tak akan pernah mengecewakanku.

    Dan kudoakan semoga mereka dikaruniai istri yang shalihah yang jauh lebih baik dari yang pernah mereka bayangkan sebelumnya. Karena Allah tak akan pernah mengecewakan hamba-hambaNya.

    Haya Khadijah
    “Ya Allah aku memohon kepadaMu kecintaan kepadaMu, dan cinta kepada orang-orang yang mencintaiMu, juga kepada amal perbuatan yang akan mendekatkan diriku untuk mencintaiMu.”

    –|| seSederhana itu Segalanya ||–

    Sepatu Si Bapak Tua

    Filed under: Kehidupan

    Sepatu Si Bapak Tua
    Seorang bapak tua pada suatu hari hendak bepergian naik bus kota. Saat
    menginjakkan kakinya ke tangga, salah satu sepatunya terlepas dan jatuh ke
    jalan. Sayang, pintu tertutup dan bus segera berlari cepat. Bus ini hanya
    akan berhenti di halte berikutnya yang jaraknya
    cukup jauh sehingga ia tak dapat memungut sepatu yang terlepas tadi.

    Melihat kenyataan itu, si bapak tua itu dengan tenang melepas sepatunya
    yang sebelah dan melemparkannya ke luar jendela. Seorang pemuda yang duduk
    dalam bus tercengang, dan bertanya pada si bapak tua, ‘’Mengapa bapak
    melemparkan sepatu bapak yang sebelah
    juga?'’ Bapak tua itu menjawab dengan tenang, ‘’Supaya siapa pun yang
    menemukan sepatuku bisa memanfaatkannya.'’

    Bapak tua dalam cerita di atas adalah contoh orang yang bebas dan merdeka.
    Ia telah berhasil melepaskan keterikatannya pada benda. Ia berbeda dengan
    kebanyakan orang yang mempertahankan sesuatu semata-mata karena ingin
    memilikinya, atau karena tidak ingin orang lain memilikinya.

    Sikap mempertahankan sesuatu — termasuk mempertahankan apa yang sudah tak
    bermanfaat lagi — adalah akar dari ketamakan. Penyebab tamak adalah
    kecintaan yang berlebihan pada harta benda. Kecintaan ini melahirkan
    keterikatan. Kalau Anda sudah terikat dengan sesuatu, Anda akan
    mengidentifikasikan diri Anda dengan sesuatu itu. Anda
    bahkan dapat menyamakan kebahagiaan Anda dengan memiliki benda tersebut.
    Kalau demikian, Anda pasti sulit memberikan apapun yang Anda miliki karena
    hal itu bisa berarti kehilangan sebagian kebahagiaan Anda.

    Kalau kita pikirkan lebih dalam lagi ketamakan sebenarnya berasal dari
    pikiran dan paradigma kita yang salah terhadap harta benda. Kita sering
    menganggap harta kita sebagai milik kita. Pikiran ini salah. Harta kita
    bukanlah milik kita. Ia hanyalah titipan dan amanah yang suatu ketika harus
    dipertanggungjawabkan. Pertanggungjawaban kita adalah sejauh mana kita bisa
    menjaga dan memanfaatkannya. Peran kita dalam hidup ini hanyalah menjadi
    media dan perantara. Semuanya adalah milik Tuhan dan suatu ketika akan
    kembali kepadaNya.

    Tuhan telah menitipkan banyak hal kepada kita: harta benda, kekayaan,
    pasangan hidup, anak-anak, dan sebagainya. Tugas kita adalah menjaga amanah
    ini dengan baik, termasuk meneruskan pada siapa saja yang membutuhkannya.
    Paradigma yang terakhir ini akan membuat kita menyikapi masalah secara
    berbeda. Kalau biasanya Anda merasa terganggu begitu ada orang yang
    membutuhkan bantuan, sekarang Anda justru merasa bersyukur. Kenapa? Karena
    Anda melihat hal itu sebagai kesempatan untuk menjadi ‘’perpanjangan
    tangan'’ Tuhan. Anda tak merasa terganggu karena tahu bahwa tugas Anda
    hanyalah meneruskan ‘’titipan'’ Tuhan untuk membantu orang yang sedang
    kesulitan.

    Cara berpikir seperti ini akan melahirkan hidup yang berkelimpahruahan dan
    penuh anugerah bagi kita dan lingkungan sekitar. Hidup seperti ini adalah
    hidup yang senantiasa bertambah dan tak pernah berkurang. Semua orang akan
    merasa menang, tak ada yang akan kalah. Alam semesta sebenarnya bekerja
    dengan konsep ini, semua unsur-unsurnya bersinergi, menghasilkan kemenangan
    bagi semua pihak.

    Tapi, bukankah dalam proses memberi dan menerima ada pihak yang akan
    bertambah sementara pihak yang lain menjadi berkurang? Kalau Anda
    berpendapat demikian berarti Anda sudah teracuni konsep Zero Sum Game yang
    mengatakan kalau ada yang bertambah pasti ada yang berkurang, kalau ada
    yang untung pasti ada yang rugi, kalau ada yang menang pasti ada yang
    kalah. Padahal esensi hidup yang sebenarnya adalah menang-menang. Kalau
    kita memberi kepada orang lain, milik kita sendiri pun akan bertambah.

    Bagaimana menjelaskan fenomena ini? Ambilah contoh kasus bapak tua tadi.
    Kalau ia tetap menahan sepatunya maka tak ada pihak yang dapat memanfaatkan
    sepatu tersebut. Kondisi ini adalah kalah-kalah (loose-loose). Sebaliknya
    dengan melemparkannya, sepatu ini akan bermanfaat bagi orang lain. Lalu
    apakah si bapak tua benar-benar kehilangan? Tidak. Ia memperoleh kenikmatan
    batin karena dapat memberikan manfaat bagi orang lain. Betul, secara fisik
    ia kehilangan tetapi ia mendapatkan gantinya secara spiritual.

    Perasaan inilah yang selalu akan Anda dapatkan ketika Anda membantu orang
    lain: menolong teman yang kesulitan, memberikan uang pada pengemis di
    jalan, dan sebagainya. Kita kehilangan secara fisik tapi kita mendapatkan
    ganti yang jauh lebih besar secara spiritual.

    Sebagai penutup, ijinkanlah saya menuliskan seuntai puisi dari seorang bijak:
    ‘’Engkau tidak pernah memiliki sesuatu Engkau hanya memegangnya sebentar.
    Kalau engkau tak dapat melepaskannya, engkau akan terbelenggu olehnya. Apa
    saja hartamu, harta itu harus kau pegang dengan tanganmu seperti engkau
    menggenggam air. Genggamlah erat-erat dan harta itu lepas. Akulah itu
    sebagai milikmu dan engkau mencemarkannya. Lepaskanlah, dan semua itu
    menjadi milikmu selama-lamanya'’.

    Sumber: Sepatu Si Bapak Tua oleh Arvan Pradiansyah, pengamat kepemimpinan
    dan SDM, penulis buku You Are A Leader!






















    Get free blog up and running in minutes with Blogsome
    Theme designed by Minz Meyer