Katakan Jomblo Sejujurnya
Oleh Ayub Yahya(dengan penyesuaian seperlunya)
Ada banyak alasan kenapa orang ngejomblo. Ada yang
karena memang sudah pilihan. Jadi kesempatan sih ada.
Kesiapan mental, spiritual dan material juga oke. Cuma
ya, nggak mau saja. No way-lah.
Nah, nggak maunya itu bisa karena ingin konsen dengan
studi atau karier. Nggak mau diganggu dengan segala
urusan tetek dan bengek. Bisa karena ingin total
mengabdi panggilan pelayanan. Misalnya, ngurusin anak
jalanan, atau pergi ke daerah terpencil dan melayani
suku terasing di sana.
Atau bisa juga karena ingin setia menanti cinta “sang
tambatan hati”. Biar pun doi sudah punya “gandengan”
(emangnya truk) alias tidak sendiri lagi. Prinsipnya
sebelum “janur melengkung” (merit maksudnya) penantian
jalan terus. Bahkan, andaikan pun nanti sang janur
akhirnya melengkung juga: “Ku tunggu jandamu!” (kalau
cewek, ya “Ku tunggu dudamu!”).
Pokoknya, seperti lagunya Meriam Bellina: “Ku tutup
pintu hati untuk semua cinta walau batin ini
menjerit… hiks!” Lha habis gimana, sudah cinta
setengah mati setengah hidup sama die. Nggak bisa
pindah ke lain hati.
(Apa pun alasan orang memilih ngejomblo, kita perlu
ngehargainya. Ngejomblo atau tidak toh itu hak asasi
setiap orang. Hak asasi berarti hak itu diberikan oleh
Tuhan karena kita ini manusia. Sama dengan hak untuk
hidup, hak untuk diperlakukan secara adil dan beradab,
hak untuk dicintai dan mencintai. Jadi, jangan malah
sinis atau curiga yang nggak-nggak)
* * * *
Ada juga yang memilih ngejomblo karena trauma.
Misalnya, dulu pernah pacaran. Sayang banget sama doi,
sampai-sampai segalanya sudah diberikan. Tapi eh,
dikhianati. Doi ternyata punya kekasih lain. Sakit
sekali. Nyerinya sampai ke sumsum tulang. Serasa
digigit seribu ekor nyamuk demam berdarah. Atau
(ngutip lagunya Glenn Fredly) rasanya seperti separuh
napasku sirna. Duh! Kapok deh kapok!
Atau, trauma karena ngelihat ortu berantem melulu.
Nggak siang nggak malam. Mana berantemnya nggak
kira-kira; pakai piring terbang dan makian kebun
binatang segala. Sudah gitu, ngelihat teman yang sudah
berumah tangga sami mawon. Barantakan pula. Malah
sampai cerai. Jadinya takut. Daripada sengsara
mendingan ngejomblo. Bisa bebas sebebas burung di
udara.
(Kita harus bersimpatik dengan orang-orang seperti
itu. Hidup dengan trauma tuh nggak enak lho. Mereka
adalah korban; korban sesamanya, korban lingkungannya,
atau bahkan korban dirinya sendiri. Jadi, mbok ya
tolong mereka. Minimal jadilah teman buat mereka.
Jangan sampai sikap dan kata-kata kita malah tambah
melukai).
* * * *
Ada juga yang ngejomblo bukan karena pilihan, tapi
karena keadaan dan kesempatan yang belum klop. Jadi
keinginan sih ada. Bahkan besar. Doa dan usaha juga
sudah. Cuma ya, belum ketemu yang pas saja.
Nah, belum ketemu yang pas itu bisa karena standar
yang ketinggian. Kebanyakan milih. Mikirnya tuh kayak
orang mau naik bis. Yang itu kotor, malas ah. Yang ini
nggak ada AC-nya, ogah ah. Yang ono sopirnya nggak
meyakinkan, nggak mau ah - Ah uh ah uh terus, jadinya
nggak naik-naik. Tetap cengo di terminal.
Pengennya yang perfect: cakep (kalau cewek kayak
Sophia Latjuba, kalau cowok kayak Okta eh Ari Wibowo
ding), kaya raya (kayak James Riady), pintar (kayak
B.J. Habibie), baik hati dan tidak sombong serta enak
kalau di ajak ngobrol (kayak saya hehehe:) - Eit, yang
terakhir cuma “ngecap” lho. Habis susah sih cari
contohnya.
) Ntar dikira promosi diri, bisa tambah
pengagum. Nggak ku ku deh hehehe
- Pokoknya yang
ideal banget. Ya, nggak nemu-nemu. Jadinya, jomblo
terussss.
Bisa juga karena kurang berusaha. Lha, gimana bisa
ketemu yang pas kalau diam di rumah terus. Nggak mau
bergaul. Ngeharep “doi” nyamperin sendiri.
Kucluk-kucluk datang bawa setangkai bunga (segepok
“bunga” bank ?) dan bilang, “Hi, it’s me. Godain kita
dong!” - Ya, ampun! Broer and sus, jodoh nggak turun
dari langit lho. Usaha tuh kudu. Minimal
buka peluang dong supaya mengenal dan dikenal sebanyak
mungkin orang lain.
Caranya? Ya, bergaullah. Ikuti aktivitas muda-mudi di
gereja/masjid/kampus/kantor, misalnya, gabung dengan
klub pencinta alam, atau klub apalah - yang baik,
tentunya. Kalau perlu jadi anggota Ijo Lumut (Ikatan
Jomblo Lucu dan Imut). Semakin banyak dikenal dan
mengenal orang kan semakin besar kemungkinan ketemu
yang pas.
* * * *
Tetapi bisa juga nggak ketemu yang pas itu karena
“faktor x”. Alias blank. Nggak tahu kenapa. Padahal,
“modal” sih cukuplah - tampang nggak jelek-jelak amat,
karier lumayan, jiwa-raga sehat nggak ada gangguan
serius. Doa, puasa dan usaha juga sudah lebih dari
cukup. Tuntutan standar nggak macam-macam; pokoknya
yang penting seiman, sehat jiwa-raga, dan (tentu saja)
harus lawan jenis (habis masak sejenis?!#@#@). Cuma
itu. Tetapi eh, koq ya tetap saja jomblo. Heran!
Begitulah hidup. Nggak semua hal bisa dijelaskan
dengan logika. Otak kita terlalu terbatas untuk
mengungkap semua realitas. Ada banyak hal dalam hidup
ini yang hanya bisa kita terima tanpa reserve. Itulah
misteri. Misalnya: kenapa kita lahir di sini, seperti
ini dan dari
orang tua si Anu? Nggak tahu. Kita hanya bisa
menerimanya.
Jomblo juga (kadang-kadang) begitu. Kenapa sampai
ngejomblo, nggak selalu bisa dijelaskan dengan logis.
Pokoknya entah.
Lalu bagaimana dong?
Kalau suatu keadaan itu memang tidak dapat kita ubah,
jalan terbaik - dan sehat pula - ya, kita terima saja.
Jalani dengan legowo. Toh gerundelan, menyalahkan diri
sendiri, uring-uringan, marah-marah, menyesali
habis-habisan, nggak ada gunanya. Selain malah
memperburuk keadaan.
Paling “enak” hidup tuh mengalir sajalah. Upayakan
yang terbaik apa pun yang harus kita lakukan,
selebihnya terserah DIA, Sang Pemilik Kehidupan.
Melawan arus hanya akan menimbulkan “riak-riak”
gelombang. Kita akan capek sendiri. Buang-buang
energi. So, go with the flow, Jomblo! Hidup JOMBLO!
–|| seSederhana itu Segalanya ||–