.: sEgALaNyA iTu tTg SeGaLaNyA

7 May , 2006

ELEGI BIRU NANA

Filed under: Kehidupan, Ruhani

From: Dian Anggrek
Subject: Elegi Biru Nana
Date: Thu, 30 Mar 2006 19:27:45 -0800 (PST)
To: elegi_biru@eramuslim.com
Full Headers
Undecoded Letter
Elegi Biru Nana

Nana tumbuh sebagai gadis remaja pada umumnya. Riang, ceria bersama teman2nya. Namun dibalik keceriaannya, Nana memahami benar masalah pelik yang menaungi keluarga besarnya. Semenjak belia ia belajar tentang beban yang tak semestinya dipikul oleh anak seusianya.

Sebagai anak perempuan satu2nya dalam kluarga, tak ayal membuat sikap dan sifatnya mirip dgn lawan jenisnya. Nana pun lebih nyaman ketika berkawan dan bersahabat dengan lawan jenisnya. Meski begitu tak pernah Nana melakukan hal2 yg di luar batas kewajaran.

Semasa SMP Nana tau benar bahwa teman2nya dekat dgn dunia hitam, narkoba, pacaran bebas dan semacamnya. Namun Nana tak terpengaruh dengan itu semua. Teman2nya pun tak menjeratnya untuk masuk ke dalam dunia mereka. Nana lebih memilih sibuk di kegiatan OSIS, PMR, Basket juga Mushola dan tetap berteman baik dgn teman2 yang tengah terbius dgn kesenangan hampa.

Dunia SMU yang berbeda dgn SMU pada umumnya, membuat Nana semakin dekat dgn org yang “lurus2” saja. Tak banyak berbeda, hari2nya diisi dengan kegiatan di OSIS. Tapi peraturan2 yg sedemikian ketat di sekolahnya membuat jiwa bebas Nana sedikit berontak. Nana yang cemerlang dalam akademis dan kegiatan ekskul sering kluar masuk ruang BP. Sebenarnya kenakalan2 yg Nana lakukan tak terlalu besar. seperti contoh ketika Nana mendalangi aksi mogok belajar karna guru pengganti kurang becus mengajar.

Atau ketika Nana protes kepada salah seorang Guru, karna Nana tak terima ketika ia dicurigai oleh sang guru pada waktu ujian suatu mata pelajaran, dimana Nana mendapat nilai 9. Sedangkan teman2 yg lain mendapat tak lebih dari 5. bahan ulangan pada hari itu disampaikan ketika Nana tak masuk sekolah karna sakit. Sang guru semakin yakin bahwa Nana berlaku curang. Nana tak terima tuduhan guru tersebut. Kemudian Nana menjelaskan, bahwa ia mencatat ulang pelajaran yg tertinggal tersebut pada seorg teman sekelasnya, dan kbetulan sang teman yg ia pinjam catatannya tadi, pada ulangan itu hanya mendapat nilai 3! Sang guru semakin sinis padanya. Nana protes semakin tajam, “apa yg salah dgn nilai 9. saya belajar! Silahkan bapak tanyakan pada teman2 yg lain, kenapa nilai mereka jeblok sedangkan mereka mencatat semua pelajaran dan menyimak penjelasan yang bapak berikan pada waktu itu! Atau jangan2 letak permasalahannya di bapak?” kontan wajah sang guru merah padam dan Nana pun kembali disuruh ke ruang BP.

Nana pun tak pernah punya hubungan istimewa dgn lawan jenis. Meski Nana sering mendapat surat2 gombal dari KK kelasnya maupun teman sekolahnya. Baginya persahabatan di atas segalanya.

Ketika masuk ke perguruan tinggi Nana pun cepat dikenal di almamaternya. Karna sejak awal Nana melangkahkan kakinya, ia bertekad tak ingin membuang percuma waktu mudanya. Ia ingin punya sedikit andil dalam perubahan kondisi bangsanya yang semakin amburadul. Nana memilih kegiatan social politik. Nana banyak belajar hal2 baru dari sana dan pergaulannyapun semakin luas. Nana mulai mengenal dunia maya. Dan sifatnya yang terbuka ternyata menyentuh hati seorang kawan dunia mayanya yang sama sekali belum pernah bertemu muka.

Nana bingung, sejak mengenal indahnya islam Nana bertekad tak ingin terjebak hubungan cinta yang terlarang. Nana memberikan opsi kepada sang laki2. ternyata laki2 itu memilih untuk bertemu. Dan setelah bertemu pada satu moment ( padahal Nana tak banyak bicara dgn sang laki2, dan mereka pun tak hanya berdua saja) ternyata laki2 itu menyatakan keinginannya untuk serius melangkah ke ikatan suci pernikahan. Usaha2 mereka lakukan. Namun ternyata Allah berkehendak lain. Takdir tak berpihak pada mereka.

Nana terpukul, dan Nana tau laki2 itupun cukup terpukul dgn kenyataan ini. Tapi Nana sadar hidup harus tetap jalan terus. Nana kembali menyibukkan dirinya kepada kegiatan2 kampusnya. Namun kesehatannya menurun drastic, kondisi mental dan beban batin yang ia rasakan tak urung membuatnya drop.

Dalam masa2 pemulihan tiba2 Nana berkenalan dgn seorg pria di dunia maya. Aktifitas pria ia sangat mengagumkan. Awalnya hubungan mereka biasa2 saja. Namun sang pria agresif sangat kepadanya. Ketika Nana merasa interaksi mereka sudah mengarah kurang sehat, Nana brinisiatif untuk segera menghentikan komunikasi. Namun sang pria malah akhirnya meminta komitmen. Dia menawarakan sejumlah tahun agar Nana bersedia menunggu sang pria untuk melamarnya.

Nana terjebak pada rayuan2 gombal sang pria. Nana yang lugu, yang polos yang sama sekali tidak pernah hanyut dalam kemesraan semu akhirnya terjerumus kian dalam. Nana diajarkan hal2 yang tabu, yang sebelumnya tak pernah sekalipun Nana tertarik akan hal2 itu. Nana yang malang, ketika bagian2 yg paling terjaga dalam tubuhnya tersentuh oleh orang yg bukan haknya ia tak berani melawan. Bahkan pada waktu yg bersamaan sang pria membangun komitmen dgn gadis lain di kotanya. Dan yg mereka lakukan tak jauh berbeda dari prlakuan laki2 itu pada Nana.

Hati Nana bagai diiris sembilu. Ketika Nana sedang bersedih dan terluka, entah kenapa Nana kembali menemukan sahabatnya (lagi2) di dunia maya. Jo nama laki2 itu. Jo senantiasa bersedia mendengarkan keluh kesah Nana, kekecewaan, luka hati karna laki2 itu. Nana dan Jo semakin intens berkomunikasi. Akhirnya merekapun bertemu.

Nana terkesan oleh sikap Jo yang dewasa, kata2nya yg menyejukkan, perhatian2nya. Akhirnya Nana luluh. Nana tak kuasa ketika Jo menyatakan perasaannya pada Nana. Jo pun minta bertemu lagi pada tempat yang sama. Pertemuan2 mereka semakin intens. Ternyata Jo sama saja dgn lelaki pada umumnya. Tubuh Nana dijadikan alat pemuas belaka. Nana fikir Jo tau tentang sakit hati Nana pada laki2 sebelum Jo. Nana fikir Jo laki2 yg bertanggungjawab. Berani menyentuhnya berarti Jo pun berani bertanggungjawab.

Ketika Jo mengatakan ttg keberatan orangtuanya tentang keinginan mereka untuk menikah, jiwa Nana tercabik. Tapi Jo terus menguatkannya, menghapus airmatanya, Jo meyakinkan bahwa semua belum final.

Nana terbuai dengan kata2 indah Jo. Hubungan2 terlarang itu tetap berlangsung. Dan Nana mulai mengenyampingkan kegiatan2nya demi Jo. Aktifitas2 yg sangat ia cintai ia tanggalkan, kuliahnya mulai terbengkalai, uangnya banyak habis terbuang, untuk pulsa telepon, internet demi Jo laki2 yang sangat ia harapkan. Namun ternyata pengorbanan Nana sama sekali tak menyentuh hati Jo. Ia berlalu begitu saja. Seakan apa yg ia perbuat pada Nana bukan masalah besar.

Nana merasa dunia sudah kiamat. Ia bingung harus bercerita pada siapa. Ia ingin mati saja. Bunuh diri rasanya indah pada saat itu. Nana merasa beribu macam paku menusuknya dari segala arah. Nana yang ceria berubah menjadi pendiam, pemurung. Badannya mulai drop lagi. Nana sakit2an. Dan Jo tetap tak merasa bertanggungjawab.

Nana menangis pilu, karna ia merasa telah menodai kepercayaan kedua orangtua yg sangat ia cintai. Nana telah menoreh noda dosa pada wajah keduanya. Nana menangisi pengorbanan kedua orangtuanya yang mati2an membiayai hidup juga kuliahnya, namun balasan yang Nana berikan adalah perbuatan2 nista. Nana menyia2kan pengorbanan ayah bunda. Nana ingin pergi saja.

Misteri Allah sangat indah, Nana kini kembali pada fitrahnya. Sakit fisik masih bersemayam dalam raganya. Dan Nana yakin, dgn bersabar insyaAllah, Allah berkenan untuk menggugurkan satu persatu dosanya. Nana hanya ingin berbuat yang terbaik pada orang-orang di sekelilingnya. Nana tak henti2nya memohon ampunan pada Sang Khaliq.

Jiwa Nana belum pulih dari luka. Nana amat sangat mudah mengeluarkan air mata. Bukan air mata buaya. Tapi air mata kepedihan. Jika suatu saat Anda bertemu dgn seorg gadis muda dengan sorot mata penuh sayatan luka, mungkin saja itu Nana.

Dan satu hal yang tak bisa Nana hapus dari benaknya. Satu tekad yang telah terukir tajam dalam ruang hatinya. Nana tak ingin menikah!

New Yahoo! Messenger with Voice. Call regular phones from your PC and save big.

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://foens.blogsome.com/2006/05/07/elegi-biru-nana/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>























Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer