.: sEgALaNyA iTu tTg SeGaLaNyA

14 August , 2006

Ta’aruf bukan pacaran Islami

Ta’aruf Bukan Pacaran Islami !
Oleh : Kunto Wibi & AE Dompu*
“Ada koridor yang mengatur batas ta’aruf yang diperbolehkan. Ambil saja makna katanya yang secara etimologis berarti : berkenalan. Betul-betul perkenalan biasa. Tak ada embel-embel apapun, dan bukan ajang ‘pacaran Islami’ sebagaimana sering digembar-gemborkan.”

Dalam acara bimbingan pra-nikah yang penulis liput pada hari Sabtu lalu (27 Agustus 2005), Ustadz H. Darlis Fajar mengungkap banyak realita memprihatinkan, seputar relasi ikhwan-akhwat akhir-akhir ini.
Salah satu realita mencemaskan itu adalah pergeseran makna ta’ aruf dari perkenalan biasa menjadi pacaran. Ustadz Darlis bahkan sempat juga mendapati, kasus tiga orang akhwat di-khitbah oleh ikhwan yang sama, dalam saat bersamaan. Playboy ?
Bisa jadi. Cuma kostumnya saja berbeda. Dari kejadian itu kita bisa melihat, betapa aturan Islam yang indah dicerabuti sekedar simbolnya saja. Dikaburkan maknanya yang luhur, sehingga ide yang tak murni Islam sebab terkontaminasi itu malah populer sebagai ‘cara Islam’ dimata masyarakat. Inilah dampak buruk proses komodifikasi. Buah character assasination yang sangat pengecut, jika saja para pelakunya mau merenungkan dampak perbuatan tersebut.
Melalui ta’aruf-ta’aruf-an, sebagaimana paparan diatas, “hubungan tanpa status” kembali menyaru. Dalam topeng baru yang lebih canggih, lebih halus, bak srigala berbulu domba. Pelaku malah merasa aman berlindung di balik topeng kesalehannya. Ia merasa aman dari tanggapan manusia, dan na’udzubillah, gelagatnya merasa aman juga dari pengamatan Allah ‘azza wa jalla.

Selain pelecehan terhadap makna ta’aruf dan kelakuan playboy yang sungguh tak terhormat itu, ada juga laki-laki yang meng-khitbah dengan janji akan menikahi empat tahun kemudian. Jangankan empat tahun, setahun atau dua tahun, beberapa bulan tanpa kepastian saja hubungan tersebut bisa dikategorikan ‘cacat.’ Artinya masih bisa terjadi khalwat, yang ujung-ujungnya bisa-bisa menimbulkan tak cuma zina hati, bahkan zina fisikpun memungkinkan. Kita perlu menekuri peringatan : jika ada dua orang lain jenis bukan mahram berkumpul, yang ketiganya pasti adalah setan. Yang akan membujuk dan menipu sekuat kemampuan, sehingga rusak jalinan hubungan yang lazimnya harus diikat dengan tali kesucian. Itulah sebabnya, sampai-sampai Allah memperingatkan kita dalam firman-Nya : “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan sesuatu jalan yang buruk.” (Q.S. Al Isra [17] : 32)
Kaum perempuan, setiap muslimah yang telah akil baligh dan berkeinginan menikah, sebaiknya betul-betul menimbang dulu calon yang hendak menikahi. Jangan lekas jatuh hati oleh niat khitbah yang diajukan seseorang. Karena belum tentu, lelaki yang menggunakan bahasa khitbah itu seorang yang ihsan sekaligus tekun menjalankan perintah agama. Seorang pembohong kan bisa saja kalau cuma mengatakan “ Saya meng-khitbah kamu.” Jadi, selidiki dulu karakter orang dan latar belakang orang yang hendak mempersunting diri. Jangan ukhti-ukhti cepat terpikat.
Muslimahpun hendaknya bisa mengenali resiko ketika dia mengikatkan diri dalam tali khitbah. Perlu diketahui bahwa ketika seorang pria meng-khitbah dan ukhti menerimanya, itu berarti ukhti sudah mengikatkan diri. Ukhti harus memahami betul, apakah sang peng-khitbah memang ingin mengukuhkan separuh agamanya, atau hanya sekadar menancapkan kuku dominasi terhadap diri ukhti. Ingat, dominasi itu karakter pria yang genetis. Dia cenderung ingin mengklaim sesuatu sebagai miliknya, dan mesti diakui walau terkadang tanpa melalui prosedur benar. Fakta-fakta diatas menegaskan hal tersebut. Ada seorang ikhwan ingin “memiliki” dan diakui hak miliknya, tapi dia sendiri tidak mau terikat penuh. Janjinya hanya sebatas “pengaman” bagi hak dia, tanpa memikirkan hak perempuan atau lelaki lain yang punya niatan baik. Jika ia ingin pindah ke lain hati, ya tinggal pindah saja, tanpa merasa berat. “Jangan nyimpen telor ayam di satu keranjang. Kalau pecah satu masih ada yang lain.” Itu kira-kira motto Playboy dikala memilih jodoh. Berhati-hatilah, ukhti !
***
Islam telah mengatur agar ketertipuan seperti paparan diatas tak perlu sampai terjadi. Ada koridor yang mengatur batas ta’aruf yang diperbolehkan. Ambil saja makna katanya yang secara etimologis berarti : berkenalan. Betul-betul perkenalan biasa. Tak ada embel-embel apapun, dan bukan ajang ‘pacaran Islami’ sebagaimana sering digembar-gemborkan. Pada prinsipnya, memang boleh-boleh saja berkenalan dan berteman dengan siapapun. Islam tidak mengekang niatan itu. Tapi kalau ingin hubungan lebih serius, jalurnya hanya pernikahan dan gerbangnya hanyalah peng-khitbah-an.
Lalu, bagaimana sih prosedur khitbah itu?
Sederhananya pengkhitbahan diawali dengan silaturahmi antar dua keluarga, bertemu dan meminta restu orangtua serta kesediaan akhwat yang diminati. Jika sudah bersedia, tentu ada rentang waktu antara khitbah dengan nikah. Bisa sehari sampai beberapa bulan, dan tentu saja, disarankan untuk tidak terlalu lama. Pada masa persiapan itu, barulah ikhwan-akhwat yang terikat khitbah dituntut untuk saling menjaga. Ikhwan tak boleh melamar wanita lain, akhwat tak boleh menerima pinangan dari siapapun. Jadi tak sembarangan! Kedua belah pihak dalam aturan Islam diakomodir secara baik. Lelaki bisa mengklaim sang wanita sebagai bakal milik, dan pihak wanitapun tak perlu berdiri sebagai pihak yang sengaja “diambangkan.” Wallahu a’lam bish shawab.

*Penulis adalah tim redaksi cyberMQ

se-Sederhana itu segalanya !!

fase pranikah

Bagaimana Islam Mengatur Fase Pra Nikah?

1. Dalam Islam mencintai atau membenci seseorang harus disandarkan kepada Allah, dan barangsiapa yang cintanya tidak disandarkan kepada Allah, berarti masih banyak kelemahan dan kekurangan dalam imannya.
Diriwayatkan dari Anas r.a katanya: Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:”Tiga perkara, jika terdapat di dalam diri seseorang, maka dengan perkara itulah dia akan memperoleh kemanisan iman: Seseorang yang mencintai Allah dan RasulNya lebih daripada selain keduanya, mencintai seorang hanya karena Allah, tidak suka kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya dari kekafiran itu, sebagaimana dia juga tidak suka dicampakkan ke dalam Neraka.”
(HR. Bukhari Muslim)
2. Ta’aruf yang sesuai dengan Islam adalah saling mengenal nama, akhlak, sifat,kondisi keluarga, ekonomi, sosial, kesehatan dan hal-hal lain yang dibutuhkan. Namun selama ta’aruf tersebut tidak dibolehkan melakukan pacaran, seperti dudukberduan, jalan-jalan berduaan, saling bersentuhan, saling pandang-pandangan dan hal-hal lain yang mendekatkan kepada perzinahan. Namun perkenalan tersebut
dilakukan lewat ibu, saudara perempuan atau orang-orang dekat calon yang akan dijadikan sebagai isteri.
Dalam proses ta’aruf diperbolehkan untuk melihat wajah serta dua telapak tangan atau saling bertukar foto dan biodata masing-masing.Tidak ada ketentuan antara jarak ta’aruf, khitbah dan nikah, namun tidak boleh dilama-lama, dan apabila bisa dilakukan lebih cepat, maka hal itu lebih baik sehingga dapat menghindarkan dari fitnah.
Khitbah tidak mengubah status apa pun antara seorang laki-laki dan perempuan.
Apa yang tadinya haram tetap haram. Hanya saja kalau seorang wanita dikhitbah, dia tidak boleh dikhitbah oleh laki-laki lain hingga laki-laki yang
mengkhibahnya membatalkannya. Adapun cara mengkhitbah adalah datang kepada wali calon istri untuk menanyakan apakah dia setuju jika anak wanitanya dinikahi.
Acara khitbah pun dapat dijadikan ajang untuk saling mengenal antara calon suami istri dalam batas-batas syariat dan antara keluarga keduanya.Adapun pemberian hadiah dari laki-laki kepada wanita yang dikhitbah tidak ada anjuran dalam syariat Islam, sebab hal itu hanyalah adat kebiasaan yang berlaku di
tengah-tengah masyarakat.
Wallahu A’lam bishawwab.

Ust. Iman Sulaiman Lc.

se-Sederhana itu segalanya !!

Ta’aruf Islami

Filed under: Artikel Nikah & RT

Ta’aruf Yang Islami

Assalaamu’alaikum Wr Wb,
Dalam Islam taaruf tak ada aturan bakunya. Ini sudah pernah kami muat dalam rubrik konsulltasi ini. Bahkan setelah sepasang manusia menikah, taaruf masih terus berlangsung. Sebab makna ta’aruf yang sebenarnya adalah berkenalan. Jika yang anda maksudkan adalah taaruf dalam rangka akan menikah, maka kira-kira umumnya dilakukan sebagai berikut:
1. Saling tukar menukar data diri, nama, alamat, tempat tanggal lahir, nama orang tua, suku, hobi, dll yang dianggap wajar sebagai perkenalan pertama. Plus foto masing-masing.
2. Jika dari data pertama tersebut, jika kedua pihak setuju, maka pertemuan dilanjutkan sesuai kesepakatan untuk berjumpa pertama kali atau “melihat”. Yang kita sebut “melihat” inilah yang sebenarnya sesuai sunnah Nabi SAW, sebab Beliau SAW ketika salah seorang menyatakan akan menikah dengan si fulanah, beliau bertanya apakah sudah pernah melihat fulanah tersebut? Kemudian Beliau menganjurkan sahabat tersebut untuk melihatnya, dengan alasan: “karena melihat
membuat engkau lebih terdorong untuk menikahinya”. Kira-kira demikian. Yang disebut “melihat” ini biasanya dilakukan dengan ditemani orang lain, sesama wanita dari pihak wanita (atau mahramnya yang pria) dan si pria bisa sendiri atau dengan orang lain.
3. Dalam pertemuan pertama tersebut fungsinya membuktikan data foto. Bisa jadi dalam pertemuan tersebut satu sama lain saling bertanya tentang hal-hal yang perlu diperjelas.
4. Seringkali pertemuan tsb dilanjutkan dengan “hubungan” selanjutnya dengan maksud memperjelas perkenalan, yaitu mungkin dengan (1) surat menyurat (2) sms atau telepon (3) atau pertemuan lain dengan komposisi yang sama. Dalam langkah selanjutnya ini umumnya yang dilakukan adalah mendetilkan perkenalan.
5. Jika saling setuju, maka selanjutnya kedua pihak mulai melibatkan ortu, kadang juga ortu terlibat sejak awal, namun biasanya jika sudah melibatkan ortuitu artinya mulai bicara teknis pernikahan.
6. Jika sudah bicara teknis artinya sudah dalam proses menuju pernikahan atau dengan kata lain si wanita sudah dilamar dan tak boleh dilamar pria lain.
Seringkali kami juga menganjurkan agar kedua pihak (pada tahap antara nomer 4 dan 5) untuk saling tukar data lebih jauh, misalnya keduanya masing-masing membuat semacam surat perkenalan yang menceritakan tentang diri masing-masing, misalnya kisah singkat tentang dirinya atau tentang hobinya dsb. Ini ijtihad saja yang intinya untuk memberi kesempatan atau sarana bagi kedua pihak untuk taaruf. Bisa juga anda engembangkan cara-cara lain.

Apapun juga ada beberapa kesimpulan yang dapat ditarik sebagai “aturan main” taaruf untuk pernikahan pada zaman kita ini
1. Tidak berkhalwat (hadits ttg ini sudah jelas dan dibahas di banyak buku dan kesempatan)
2. Tidak boleh zina hati dan zina mata (termasuk mendekati zina)
3. Agar nomer 2 tidak dilanggar, maka waktu taaruf tak boleh terlalu panjang, apalagi jika sampai tanpa batas yang ditentukan. Jika tak bisa menentukan waktu, sebaiknya pisah saja dulu tanpa ikatan janji. Sebab (1) janji atau yang semacam itu mengundang harap-harap dan itu menjadi zina hati
(2) Janji menyebabkan pria lain tak bisa mendekati si wanita dan itu membuat posisinya sudah “setengah milik” bagi pria yang sedang melamarnya tanpa batas waktu kapanmenikah.
(3) keadaan yang bagaikan “setengah milik” ini menimbulkan
kecenderungan mencairkan “hijab dalam pergaulan” antara kedua insan tersebut, ini menjadi mendekati zina. Contohnya adalah timbulnya perilaku cemburu pada pacar atau tunangan yang padahal tak ada kaitan/ikatan apa-apa.
4. Jika sudah ada kata sepakat, segeralah menentukan waktu dan kemudian menikah.
Wallahua’lam bishshowwaab. Yang benar datangnya dari Allah SWT, yang
salah datang dari kelemahan, kebodohan dan kemaksiyatan manusia.

Wassalaamu’alaikum Wr Wb

HM Ihsan Tanjung dan Siti Aisyah Nurmi

======
semoga bermanfaat

_________________
“Mulailah Dari Diri Sendiri, Mulailah Dari Hal Yang Terkecil, dan Mulailah Saat Ini Juga!” (Aa Gym)

se-Sederhana itu segalanya !!

Ta’aruf 5

*IKATLAH ILMU DENGAN MENULISKANNYA*
Al-Hubb Fillah wa Lillah,

Abu Aufa
Ta’aruf besaral dari kata ‘arafa yang artinya mengetahui/mengenal. ta’aruf bermakna saling mengenal. Kata ‘arafa terdapat dalam al Qur’an:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” [Qs. Al Hujurat:13]

Tata cara ta’aruf:

1. Menjaga Pandangan mata dan hati dari hal2 yang diharamkan

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”.[ Qs. An Nuur: 30]

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya……” [Qs. An Nuur: 31]

2. Materi pembicaraan tidak mengandung dosa dan tidak bermuatan birahi

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat makruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barang siapa yang berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” [Qs. An Nisaa: 114]

3. Menghindari Khalwat (berdua2an/mojok)

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-sekali berkhalwat (berdua-duaan) dengan seorang wanita di tempat yang sunyi, sesungguhnya syetan akan menjadi orang ketiganya” [HR. Ahmad]

4. Menghindari Persentuhan Fisik

Rasulullah bersabda, “sesungguhnya aku tidak pernah bersalaman dengan wanita (bukan muhrim)” [HR. Bukhari]

5. Menjaga aurat masing2 sesuai dengan aturan syar’i/islam.

_________________
Hendaknya kita mengukur ilmu bkn dr tumpukan buku yg kita habiskan.Bkn dr tumpukan naskah yg kita hasilkan. bkn jg dr penatnya mulut dlm diskusi tak putus yg kita jalani.Tp dr amal yg keluar dr setiap desah napas kita (Ibnu Qayyim Al Jauzi

se-Sederhana itu segalanya !!

Jika kau menjadi istriku nanti

Filed under: Artikel Nikah & RT

Jika kau menjadi istriku nanti
Ta’aruf sering diartikan ‘perkenalan’, kalau dihubungkan dengan pernikahan maka ta’aruf adalah proses saling mengenal antara calon laki-laki dan perempuan sebelum proses khitbah dan pernikahan. Karena itu perbincangan dalam ta’aruf menjadi sesuatu yang penting sebelum melangkah ke proses berikutnya. Pada tahapan ini setiap calon pasangan dapat saling mengukur diri, cocok gak ya dengan dirinya. Lalu, apa aja sih yang mesti diungkapkan kepada sang calon saat ta’aruf?
1. Keadaan Keluarga
Jelasin ke calon pasangan tentang anggota keluarga masing-masing, berapa jumlah sodara, anak keberapa, gimana tingkat pendidikan, pekerjaan, dll. Bukan apa-apa, siapa tahu dapat calon suami yang anak tunggal, bokap ama nyokap kaya 7 turunan, sholat dan ibadahnya bagus banget, guanteng abis, lagi kuliah di Jepang (ehm), pokoknya selangit deh! Kalo ketemu tipe begini, sebelum dia atau mediatornya selesai ngomong langsung kasih kode, panggil ortu ke dalam bentar, lalu bilang “Abi, boljug tuh kaya’ ginian jangan dianggurin nih. Moga-moga gak lama lagi langsung dikhitbah ya Bi, kan bisa diajak ke Jepang!” Lho? :D
2. Harapan dan Prinsip Hidup
Warna kehidupan kelak ditentukan dengan visi misi suatu keluarga lho, terutama sang suami karena ia adalah qowwan dalam suatu keluarga. Sebagai pemimpin ia laksana nahkoda sebuah bahtera, mau jalannya lempeng atau sradak-sruduk, itu adalah kemahirannya dalam memegang kemudi. Karena itu setiap calon pasangan kudu tau harapan dan prinsip hidup masing-masing. Misalnya nih, “Jika kau menjadi istriku nanti, harapanku semoga kita semakin dekat kepada Allah” atau “Jika kau menjadi istriku nanti, mari bersama mewujudkan keluarga sakinah, rahmah, mawaddah.” Kalo harapan dan janjinya seperti ini, kudu’ diterima tuh, insya Allah janjinya disaksikan Allah SWT dan para malaikat. Jadi kalo suatu saat dia gak nepatin janji, tinggal didoakan, “Ya Allah… suamiku omdo nih, janjinya gak ditepatin, coba deh sekali-kali dianya…,” hush…! Gak boleh doakan suami yang gak baik lho, siapa tahu ia-nya khilaf kan?
3. Kesukaan dan Yang Tidak Disukai
Dari awal sebaiknya dijelasin apa yang disukai, atau apa yang kurang disukai, jadinya nanti pada saat telah menjalani kehidupan rumah tangga bisa saling memahami, karena toh udah dijelaskan dari awalnya. Dalam pelayaran bahtera rumah tangga butuh saling pengertian, contoh sederhananya, istri yang suka masakan pedas sekali-kali masaknya jangan terlalu pedas, karena suaminya kurang suka. Suami yang emang hobinya berantakin rumah (karena lama jadi bujangan), setelah menikah mungkin bisa belajar lebih rapi, dll. Semua ini menjadi lebih mudah dilakukan karena telah dijelaskan saat ta’aruf. Namun harus diingat, menikah itu bukan untuk merubah pasangan lho, namun juga lantas bukan bersikap seolah-olah belum menikah. Perubahan sikap dan kepribadian dalam tingkat tertentu wajar aja-kan? Dan juga hendaknya perubahan yang terjadi adalah natural, tidak saling memaksa.
4. Ketakwaan Calon Pasangan
Apa yang terpenting pada saat ta’aruf? Yang mestinya menduduki prioritas tertinggi adalah bagaimana nilai ketakwaan lelaki tersebut. Ketakwaan disini adalah ketaatan kepada Allah SWT lho, bukan nilai ‘KETAKutan WAlimahAN’ :D Karena apabila seorang lelaki senang, ia akan menghormati istrinya, dan jika ia tidak menyenanginya, ia tidak suka berbuat zalim kepadanya. Gimana dong caranya untuk melihat lelaki itu bertakwa atau tidak? Tanyakan kepada orang-orang yang dekat dengan dirinya, misalnya kerabat dekat, tetangga dekat, atau sahabatnya tentang ketaatannya menjalankan ketentuan pokok yang menjadi rukun Iman dan Islam dengan benar. Misalnya tentang sholat 5 waktu, puasa Ramadhan, atau pula gimana sikapnya kepada tetangga atau orang yang lebih tua, dan lain-lain. Apalagi bila lelaki itu juga rajin melakukan ibadah sunnah, wah… yang begini ini nih, ‘calon suami kesayangan Allah dan mertua.’
Inget lho, ta’aruf hanyalah proses mengenal, belum ada ikatan untuk kelak pasti akan menikah, kecuali kalau sudah masuk proses yang namanya khitbah. Nah kadang jadi ‘penyakit’ nih, karena alasan “Kan masih mau ta’aruf dulu…” lalu ta’rufnya buanyak buanget, sana-sini dita’arufin. Abis itu jadi bingung sendiri, “Yang mana ya yang mau diajak nikah, kok sana-sini ada kurangnya?”
Wah…, kalo nyari yang mulia seperti Khadijah, setaqwa Aisyah atau setabah Fatimah Az-Zahra, pertanyaannya apakah diri ini pun sesempurna Rasulullah SAW atau sesholeh Ali bin Abi Thalib r.a.? Nah lho…!!!
Apabila hukum pernikahan seorang laki-laki telah masuk kategori wajib, dan segalanya pun telah terencana dengan matang dan baik, maka ingatlah kata-kata bijak, ‘jika berani menyelam ke dasar laut mengapa terus bermain di kubangan, kalau siap berperang mengapa cuma bermimpi menjadi pahlawan?’
Ya akhi wa ukhti fillah,
Semoga antum segera dipertemukan dengan pasangan hidup, dikumpulkan dalam kebaikan, kebahagiaan, kemesraan, canda tawa yang tak putus-putusnya mengisi rongga kehidupan rumah tangga. Kalaupun nanti ada air mata yang menetes, semoga itu adalah air mata kebahagiaan, tanda kesyukuran kepada Allah SWT karena Ia telah memberikan pasangan hidup yang selalu bersama mengharap keridhoan-Nya, aamiin allahumma aamiin.
Barakallahulaka barakallahu’alaika wajama’a bainakuma fii khairin.
Wallahu a’lam bishowab,

se-Sederhana itu segalanya !!

pengantar ta’aruf

Filed under: Artikel Nikah & RT

pengantar ta’aruf

Pernikahan adalah fakultas kesabaran dari universitas kehidupan. Jika ingin menjadi orang yang sabar maka masukilah dunia pernikahan.Karena di dalam mengarunginya kita harus menyiapkan segudang persediaan memaafkan dan meminta maaf. Jika kita menempatkan pernikahan sebagai tempat berdampingnya ikhwan dan akhwat dalam mahligai perkawinan, sebenarnya sekaligus tempat berdampingnya mereka dalam tugas dakwah sebagai partner. Dalam makna lain, berdampingnya mereka dalam tugas - tugas kemasyarakatan, karena hal ini adalah bagian yang tak terpisahkan. Menikah adalah satu noktah dari perjalanan yang panjang. Dengan menikah akan membuat kita tetap berada pada rel perjuangan dan berusaha meningkatkan kualitas juga kuantitas perjuangan itu sendiri. Jika seorang akhwat sudah memasuki dunia ini maka waktunya bukan lagi mutlak milik dirinya sendiri. Dia sudah berubah status menjadi istri bagi suaminya, ibu bagi anak-anaknya dan sekaligus da’iyah bagi lingkungannya. Disinilah dibutuhkan satu kejelian dalam menentukan seorang pendamping hidup yang benar - benar pilihan. Pendamping hidup yang ideal bagi kita bukan berarti dia harus unggul atau menonjol. Tetapi pasangan yang tepat, yaitu yang sesuai dengan bingkai dan kepribadian kita. Sebab telah terbukti bahwa, tidak semua orang cerdas membutuhkan orang cerdas lainnya. Tidak semua pria yang gagah memerlukan wanita cantik sebagai pendampingnya. Kita ambil saja contoh Rasulullah SAW, diantara istri - istri beliau yang paling menonjol kecerdasannya hanyalah ‘Aisyah, sedangkan yang lainnya begitu bersahaja. Amirrul Mukminin Umar bin Khattab pun demikian, di dalam pemerintahan beliau lebih terkenal dengan sikapnya yang keras dan tegas. Tapi di dalam rumah beliau seperti anak kecil yang manja terhadap istri - istrinya. Di sini bukan berarti kita tidak boleh memiliki beberapa patokan kriteria dalam memilih seorang calon suami. Akan tetapi setidaknya kita jangan sampai membuat satu patokan yang bisa membuat para ikhwan itu sendiri berpikir seribu kali untuk berta’aruf dengan kita apalagi punya hasrat untuk membina rumah tangga. Satu ketakutan terkadang muncul dalam diri ikhwan yang sebenarnya sudah “siap” untuk menikah secara fisik dan materi, tapi secara mental sebenarnya mereka masih “jauh”. Apa gunanya kriteria kita yang terkadang dengan “susah payah” mereka wujudkan kalau para ikhwan itu niatnya hanya untuk mendapatkan kita saja. Alih - alih dapat suami hafidz tapi dia menghafal Qur’an hanya sebagai pemenuhan atas syarat yang kita ajukan saja.Disini yang perlu diluruskan adalah niatan dan tujuan mulia kita yang memutuskan untuk menikah yang benar - benar hanya karena Allah SWT. Penyamaan dan penyatuan visi, misi dan konsep tentang pembentukan suatu keluarga yang sakinah mawaddah dan rahmah adalah satu hal yang sangat penting sekali sebelum kita mengambil satu keputusan akhir dengan siapa dan orang seperti apa kita akan menikah. Kesatuan fikrah dan prinsip adalah hal yang sangat mendasar dan urgent sekali demi tetap eksisnya satu ikatan rumah tangga. Karena pernikahan bukan hanya merupakan satu ikatan fisik tapi juga merupakan satu ikatan batin antara dua jiwa yang berbeda, maka dalam prosesnyapun diperlukan satu persiapan dan cara yang benar - benar matang dan sesuai dengan syariat Islam tentunya. Menikah bukan hanya bertemunya seorang laki - laki dan perempuan saja tapi juga merupakan tempat bertemunya satu partner dakwah baru yang akan lebih menyempurnakan usaha perjuangan dakwah yang selama ini hanya mereka lakukan secara individu. Dan dengan pernikahan ini diharapkan akan lahirnya satu ikatan perjuangan dakwah yang lebih kokoh dan kuat. Disini akan timbul satu kerjasama dan satu kewajiban yang tak dapat terelakkan lagi antara keduanya dalam rangka ber-amar ma’ruf dan nahyi munkar. Intinya jangan sampai karena kita telah menikah justru ghirah juang dakwah kita surut bahkan hilang sama sekali.Saling mengingatkan antara keduanya saat lalai, membangkitkan ghirah saat yang satu sedang lemah. Menjadi sandaran dan tempat berlindung serta tempat mendapatkan kenyamanan hidup dari derasnya dan beratnya medan juang dakwah dalam kehidupan. Menikah juga merupakan satu media tarbiyah diri yang terus akan berlangsung seumur hidup. Dari mulai pengenalan pribadi sampai pada penyesuaian diri agar ikatan perkawinan tetap terjaga ditengah derasnya gelombang kehidupan.Karena puncak masalah dalam pernikahan bukanlah dengan siapa kita akan menikah tetapi bagaimana kita bisa tetap survive didalam perkawinan tersebut, siapapun pasangan kita kelak. Perbedaan kultur dan latar belakang budaya tak jarang dapat menjadi kerikil tajam dalam mengarunginya.Disinilah diperlukan satu tarbiyah ruhiyah yang dilakukan secara rutin dan kontinyu agar jiwa dan ruhiah kita terus mendapat transfer positif saat menghadapi pelik persoalan rumah tangga. Tarbiyah dzatiah ini akan menjadikan jiwa kita terbina, sehingga kita akan terbiasa menghadapi masalah yang timbul sesulit apapun.Satu pribadi yang telah tertarbiyah dengan baik akan menjadi sosok pribadi yang tangguh dan tegar dalam kehidupan.Dia akan dapat memahami satu pokok masalah sebagai satu ujian kehidupan dan sebagai ukuran tingkatan sejauh mana dirinya mampu mengaplikasikan ilmu yang selama ini ia dapatkan dalam setiap kajian tarbiyah Murabbi. Pernikahan bukanlah puncak dari satu tujuan kehidupan . Justru pernikahan adalah satu titik awal perjalanan panjang yang didalamnya terdapat begitu banyak ujian dan rintangan. Untuk menjalaninya diperlukan satu kesiapan jiwa yang benar - benar telah terlatih dan terbina untuk bisa selamat sampai tujuan akhir yaitu mencapai keridho’an Nya. Maka dari itu, menyegerakan untuk menikah bukan berarti tergesa - gesa dalam mengambil keputusan. Karena hidup ini terlampau singkat untuk dilewati dengan pilihan yang salah.Ketepatan pemilihan pasangan, kesiapan jiwa dan raga serta penguasaan ilmu tentangnya haruslah kita pahami dengan sungguh - sungguh. Karena suatu perkawinan adalah satu ikatan yang suci dan mulia yang tidak hanya menyangkut kehidupan kita di dunia saja tapi juga menentukan kehidupan kita di akherat. Karena pasangan kita yang baik dan sholeh di dunia, insyaAllah akan tetap menjadi pasangan kita kelak di syurga. AMIII….N SEMOGA BISA MEMBANTU AKHI WA UKHTI YANG SEDANG MENGHADAPI SAAT - SAAT TA’ARUF PERTAMA MAUPUN YANG BARU BERFIKIR MENGAMBIL KEPUTUSAN UNTUK MENIKAH, YAKINLAH BAHWA ALLAH TELAH MENETAPKAN YANG TERBAIK BUAT HAMBANYA YANG TERBAIK PULA.

se-Sederhana itu segalanya !!

pasangan Islami

06 Aug 05 10:16 WIBTa’aruf Sebagai Filter Mencari Pasangan Hidup Yang IslamiWASPADA Online
Oleh Henny Siswanto Sebagai proses pendekatan terhadap calon pendamping hidup, Islam sama sekali tidak mengenal atau menganjurkan budaya berpacaran. Pacaran seperti yang terlihat di masyarakat saat ini dinilai lebih banyak membawa kemudharatan dan jauh dari sisi kehidupan yang Islami. Ketika dua insan berdua-duaan tanpa ada yang mendampingi atau mengawasi banyak hal kemungkinan bisa terjadi. Kita bisa menyaksikan ketika pergaulan bebas dengan leluasa berada di tengah masyarakat dan diterima oleh masyarakat yang mayoritas muslim banyak hal negatif yang timbul. Sebut saja zinah, hamil di luar nikah, pengguguran kandungan, dan lainnya yang ironisnya semakin dianggap sebagai hal biasa bahkan diterima oleh masyarakat kita. Pergaulan bebas yang semakin disenangi terutama oleh kaum muda dari waktu ke waktu semakin tinggi ‘kualitasnya’ bahkan seiring kemajuan zaman, pada sebagian orang malu atau dianggap kolot jika tak mengikutinya. Ironisnya orangtua yang seyogianya bisa mendidik dan mengarahkan anak, malah kadang bertindak keliru. Timbul keresahan pada sebagian orangtua jika anaknya belum juga memiliki pacar justru pada usia yang masih belia atau remaja. Hal ini pun kadang kerap dipertanyakan kepada anak. Dengan desakan seperti ini tentu akan membuat pola pemikiran tersendiri pada anak bahwa mau tidak mau dia harus mencari pacar. Secara tidak sadar atau disadari, anak perempuan pun menjadi bertindak agresif untuk bisa menarik perhatian lawan jenisnya. Menurut Dariantini, Ta’aruf atau masa perkenalan sebelum menikah mutlak perlu bahkan Rasulullah pernah bersabda hal tersebut sangat dianjurkan dalam Islam. Begitupun bukan berarti ketika diberi kebebasan untuk mengenal calon pendamping hidup akan bisa berbuat seenaknya. Menurut Ketua Pembinaan Keluarga dari Partai Keadilan Sejahtera Sumut ini Ta’aruf tersebut harus mengacu pada bagaimana pernikahan di masa Rasullulah dahulu. “Pada masa itu sama sekali tidak dikenal yang namanya pacaran, tetapi tetap dianjurkan untuk melihat pasangannya ketika ada keinginan,” katanya. Biasanya dan lumrah adanya keinginan orang utamanya untuk melihat bagaimana fisik pasangan yang akan dinikahinya. “Tapi untuk kegiatan ini tetap harus difasilitasi, jangan hanya berdua,” katanya. Dulu pun katanya sama saja. Seperti sahabat Nabi yang suka dan menaruh hati pada lawan jenisnya. Akhirnya dilakukan penjajakan melalui perantara orangtua. “Jadi menaruh hati itu sama sekali tidak dilarang, dan memang perlu untuk ditindaklanjuti. Namun orangtua tetap harus mengawasi dan bertindak keras agar anak tidak terlanjur pada pergaulan bebas. Jangan malah mendiamkan dan merasa senang ketika anak cepat punya pasangan dan dengan bebasnya berdua bersama pasangannya,” ujarnya. Berlama-lama berpacaran seperti yang dilakukan muda-mudi saat ini juga menurutnya tidak bisa menjamin awetnya sebuah hubungan untuk nantinya bisa menjalin ke jenjang pernikahan. Justru ketika ada niat, sebenarnya harus disegerakan. “Menurut Rasul ada beberapa hal yang harus disegerakan dan salah satunya adalah menikah,” katanya. Ta’aruf sendiri katanya tidak ada batasan, tapi sebaiknya lebih cepat akan lebih baik. “Lebih cepat akan lebih baik. Jika terlalu lama niat nikah bisa goncang,” tambahnya. Kadangkala orang yang sudah memutuskan untuk menikah namun karena terlalu lama berpacaran akhirnya mengenal pasangannya termasuk segala kebolehan dan kekurangannya. “Niat nikah pun bisa mundur karena melihat banyaknya kekurangan pada diri pasangannya,” ucapnya. Dia menunjukkan hadits nabi untuk memilih pasangan yakni untuk memilih wanita ada empat hal yang menentukan yakni dilihat dari kecantikan, harta, keturunan, dan agamanya. “Jika faktor agama yang dimenangkan, maka Insya Allah kehidupan akan bahagia,” katanya. Yang harus dipersiapkan oleh pasangan adalah pertama niat. Niat yang baik jika orang yang akan menikah memandang perkawinan adalah ladang ibadah. “Jika orang memandang ini sebagai ladang ibadah jadi nikah bukan hanya untuk seks tapi nantinya akan melakukan ibadah yang lain. Masing-masing pasangan akan berusaha untuk lebih toleran, komunikatif dan saling menasehati,” katanya. Kedua yakni persiapan fisik yakni sehat fisik agar nantinya diharapkan akan lahir keturunan yang sehat. Ketiga persiapan mental. Perkawinan merupakan perjalanan hidup yang panjang, yang kemungkinan akan disertai dengan konflik. Dengan menyadari hal ini maka perlu kekuatan mental untuk bisa saling memahami dan kesabaran. Persiapan keempat yakni wawasan. Untuk membentuk keluarga yang sakinah mawadah warahmah dan bisa mendidik anak secara Islami tentunya memerlukan wawasan yang tinggi. “Ilmu pengetahuan masing-masing harus selalu ditambah,” katanya. Jika keempat persiapan ini telah dipenuhi oleh masing-masing pasangan, akan memudahkan nantinya menjalani kehidupan berumah tangga. Ta’aruf yang berlama-lama tanpa tujuan yang jelas katanya lebih banyak membawa kerugian dan mendatangkan maksiat yang jelas dilarang agama. Bagaimanapun orangtua sebutnya juga tetap punya tanggung jawab untuk membina anak-anaknya dan tidak malah mengarahkan ke jalan tidak benar. Sangat disayangkan adanya ‘trend’ orangtua yang khawatir karena anak tidak dipacari justru akibat kurangnya pemahaman. “Orangtua tetap sebagai pihak yang bertanggung jawab dan semuanya nanti akan diminta pertanggungjawaban,” ujarnya. (am)

se-Sederhana itu segalanya !!

Apa yang harus dipersiapkan untuk menikah?

{belajar-islam} Re: [assunnah] Apa yang harus dipersiapkan untuk menikah?
Chandraleka
Sat, 25 Jun 2005 07:01:18 -0700
Assalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.

Saya coba menolong memberikan jawabannya semoga Allah menolong saya.

Pertama yang perlu diingat, hubungan khusus (yang sifatnya pribadi) antara
dua orang berbeda jenis kelamin itu tidak boleh. Apalagi sudah ada rasa
saling suka. Meskipun dikatakan bisa menjaga jarak atau menjaga sikap, ini
tidak ada yang bisa menjamin. Tetap tidak aman dari gejolak yang ada di
hati.

Kedua,
Yang dilarang dalam pacaran itu bukan cuma karena berkhalwat (berdua duaan)
nya saja. Bahkan jarak jauh pun bisa terjadi pacaran. Dengan berbagai media
komunikasi padahal keduanya tidak berada pada satu tempat.

Ketiga,
Temenan buat cari jodoh (??). Ini satu istilah yang samar saya kira. Apakah
yang dimaksud itu pendekatan yang istilah gaulnya PDKT? Kalo memang berniat
cari jodoh, kenapa tidak ta’aruf saja? Bila seorang ikhwan berminat kepada
seorang akhwat kenapa tidak didatangi saja sang akhwat dan tanyakan apakah
boleh berta’aruf dengannya? Cara ini malah lebih cepat, jantan ketimbang
PDKT yang tidak pasti.

Keempat, Masalah taaruf.
Dalam masalah ta’aruf seseorang mempunyai hak untuk mengenal lawan
ta’arufnya. Bisa bertanya langsung atau juga bisa bertanya ke pihak ketiga,
misal adiknya, saudaranya, temannya, dll. Mana yang dirasa enak dan dapat
memberikan informasi yang akurat. Inti ta’aruf adalah saling mengenal agar
keduanya bisa memasuki pernikahan dengan JELAS, TERANG DAN TIDAK ADA YANG
DITUTUP TUTUPI.
Dan masalah ini bukan gambling. Ini masalah tawakal saja. Beda ya… Dalam
tawakal, bila ada hal hal yang bisa dikerjakan oleh manusia, maka harus
dilakukan. Dalam masalah ini maka usahanya adalah dengan taaruf / saling
mengenal. Kita harus cari data tentang lawan ta’aruf kita. Manusia hanya
menghukumi dari apa yang terlihat (dhohirnya saja). Untuk masalah hati, kita
pasrahkan kepada Allah.
Jangan lupa barengi upaya ini dengan doa. Kita sudah berusaha maksimal dan
mungkin masih ada yang belum diketahui. Bila baik buat kita semoga Allah
memberinya.

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri isteri kami dan keturunan
kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang
orang yang bertakwa.” (Al Furqaan : 74).

Semoga bermanfaat.

Wassalamu’laikum

se-Sederhana itu segalanya !!

Hati yang keruh *)

Filed under: Ruhani

Friday, July 07, 2006
Hati yang keruh *)

Hati itu laksana sebuah wadah, di satu sisi adalah kita dan di seberang sana adalah Allah SWT. Semestinya bila apa yang ada di dalam wadah itu bersih, jernih dan bening maka kita akan mampu melihat Allah SWT. Melihat Allah SWT tentunya bukan dalam makna lahiriyah tetapi sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW :”….ikhsan itu adalah engkau beribadah seakan-akan engkau melihat Allah dan kalau engkau tidak mampu melihatnya maka engkau yakin bahwa Dia melihatmu…”
Begitu pentingkah kita menjaga kebersihan hati agar hati selalu bening sehingga kita bisa selalu pula merasakan pengawasan Allah SWT?
Teman….kebeningan hati membuat kita bisa mudah melihat apa yg sedang meluncur atau mengotori hati sehingga kita mudah mengenalinya dan kalau perlu segera membersihkannya. Kebeningan hati akan membuat kita bisa melihat kebenaran itu ada di pihak kita atau pada lawan bicara kita sehingga kita bisa segera memegang kebenaran itu.
Kebeningan hati juga akan membuat kita mudah untuk menangkap isyarat yang menjadikan diri kita gelisah sehingga kita bisa mensikapi isyarat itu dengan baik dan menghilangkan kegelisahan yang ada. Bahkan kebeningan hati bisa membuat kita lebih peka terhadap apa yang selama ini kita kenal sebagai lintasan-lintasan perasan atau instink atau ilham karena ketika perasaan itu muncul dan masuk ke dalam hati, dia akan jelas terlihat oleh hati yang bening, sehingga akan banyak ide yang bisa keluar dari hati yang bening.
Teman…bagaimana dengan hati yang keruh??? Hati yang keruh bisa karena berbagai sebab….. cobalah perhatikan suatu wadah berisi air yang bening…. lalu jatuhkan ke dalamnya… potongan kayu….maka kayu itu akan mengapung…airnya tetap jernih tetapi pandangan kita terhalang oleh kayu itu sehingga perlu kita berpindah tempat atau menggeser kayu itu agar kita bisa melihat obyek yang terhalang oleh kayu tersebut…. bandingkan dengan.. kalau kita teteskan tinta…. maka air dalam wadah itu langsung berubah menjadi keruh tergantung sebanyak apa tinta diteteskan …. semakin banyak semakin gelap airnya sehingga meski kita berpindah tempat tetap saja kita tidak mampu untuk melihat yang ada di seberang sana…. membersihkan air yang ada kayunya mudah…diambil kayunya selesailah sudah…tetapi membersihkan cemaran air yang berupa tinta….kita harus mengganti airnya dan membersihkan noda pada wadahnya….apa tamsil dari peristiwa ini????
Kawan….. ketika kita melakukan suatu kesalahan karena kelalaian dan kelemahan kita dalam menghadapi cobaan atau godaan akan muncul dalam hati kita satu noktah (begitu dikatakan dalam sebuah hadits) akan tetapi noktah ini bukanlah tinta dalam wadah berisi air akan tetapi dia adalah potongan kayu sehingga relatif lebih mudah kita membersihkannya, karena kita bisa melihatnya segera….bukannya meremehkan dosa semisal ini…bukan berarti pula menggampangkan cara pengobatannya….karena kalau kayu yang jatuh dalam wadah berjumlah banyak mau gak mau wadah dan airnyapun akan keruh juga…tetapi… dari semula si pelaku bisa melihat kesalahannya itu… karena di sela-sela kayu itu dia masih melihat kejernihan air sehingga masih bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah….
Teman….bagaimana kalau air dalam wadah itu keruh??… dari sejak awal kita sudah kesulitan untuk melihat apa yang ada di seberang sana.. sehingga dari awal pula kita sudah sulit untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah…. bagaimana hal ini bisa terjadi????

*) Dari Om Dokter yang selalu smile@home
Posted at 15:09 by su91

se-Sederhana itu segalanya !!

Rhs kebahagiaan

Filed under: Kehidupan

Saturday, July 29, 2006
Rahasia Kebahagiaan

Rahasia kebahagiaan adalah
memusatkan perhatian pada kebaikan dalam diri orang lain. Sebab, hidup
bagaikan lukisan : */Untuk melihat keindahan lukisan yang terbaik
sekalipun, lihatlah di bawah sinar yang terang, bukan di tempat yang
tertutup dan gelap sama halnya sebuah gudang.
/*
Rahasia kebahagiaan adalah
tidak menghindari kesulitan. */Dengan memanjat bukit, bukan
meluncurinya, kaki seseorang tumbuh menjadi kuat.
/*
Rahasia kebahagiaan adalah
melakukan segala sesuatu bagi orang lain. Air yang tak mengalir tidak
berkembang. Namun, */air yang mengalir dengan bebas selalu segar dan jernih.
/*
Rahasia kebahagiaan adalah
belajar dari orang lain, dan bukan mencoba mengajari mereka. */Semakin
Anda menunjukkan seberapa banyak Anda tahu, semakin orang lain akan
mencoba menemukan kekurangan dalam pengetahuan Anda/*. */Mengapa bebek
disebut “bodoh”? Karena terlalu banyak bercuap-cuap.
/*
Rahasia kebahagiaan adalah
kebaikan hati : */memandang orang lain sebagai anggota keluarga besar
Anda. Sebab, setiap ciptaan adalah milik Anda. Kita semua adalah ciptaan
Tuhan yang satu.
/*
Rahasia kebahagiaan adalah
*/tertawa bersama orang lain, sebagai sahabat, dan bukan menertawakan
mereka, sebagai hakim.
/*
Rahasia kebahagiaan adalah
tidak sombong. */Bila Anda menganggap mereka penting, Anda akan memiliki
sahabat ke manapun Anda pergi/*. Ingatlah bahwa musang yang paling besar
akan mengeluarkan bau yang paling menyengat.

*/Kebahagiaan datang kepada mereka yang memberikan cintanya secara
bebas/*, yang tidak meminta orang lain mencintai mereka terlebih dahulu.
*/Bermurah hatilah seperti mentari yang memancarkan sinarnya tanpa
terlebih dahulu bertanya apakah orang-orang patut menerima kehangatannya.
/*
Kebahagiaan berarti menerima apapun yang datang, dan selalu mengatakan
kepada diri sendiri “Aku bebas dalam diriku”.

Kebahagiaan berarti membuat orang lain bahagia. Padang rumput yang penuh
bunga membutuhkan pohon-pohon di sekelilingnya, bukan bangunan-bangunan
beton yang kaku. Kelilingilah padang hidup Anda dengan kebahagiaan.

Kebahagiaan berasal dari */menerima orang lain sebagaimana adanya/*;
nyatanya menginginkan mereka bukan sebagaimana adanya. */Betapa akan
membosankan hidup ini jika setiap orang sama. Bukankah taman pun akan
tampak janggal bila semua bunganya berwarna ungu?
/*
Rahasia kebahagiaan adalah
*/menjaga agar hati Anda terbuka bagi orang lain, dan bagi
pengalaman-pengalaman hidup. Hati laksana pintu sebuah rumah. Cahaya
matahari hanya dapat masuk bilamana pintu rumah itu terbuka lebar.
/*
*Rahasia kebahagiaan adalah *
*memahami bahwa persahabatan jauh lebih berharga daripada barang; lebih
berharga daripada mengurusi urusan sendiri; lebih berharga daripada
bersikukuh pada kebenaran dalam perkara-perkara yang tidak prinsipiil.

*/Renungkan setiap rahasia yang ada di dalamnya. Rasakan apa yang
dikatakannya./
Posted at 11:45 by su91

se-Sederhana itu segalanya !!






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer