Hati yang keruh *)
Friday, July 07, 2006
Hati yang keruh *)
Hati itu laksana sebuah wadah, di satu sisi adalah kita dan di seberang sana adalah Allah SWT. Semestinya bila apa yang ada di dalam wadah itu bersih, jernih dan bening maka kita akan mampu melihat Allah SWT. Melihat Allah SWT tentunya bukan dalam makna lahiriyah tetapi sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW :”….ikhsan itu adalah engkau beribadah seakan-akan engkau melihat Allah dan kalau engkau tidak mampu melihatnya maka engkau yakin bahwa Dia melihatmu…”
Begitu pentingkah kita menjaga kebersihan hati agar hati selalu bening sehingga kita bisa selalu pula merasakan pengawasan Allah SWT?
Teman….kebeningan hati membuat kita bisa mudah melihat apa yg sedang meluncur atau mengotori hati sehingga kita mudah mengenalinya dan kalau perlu segera membersihkannya. Kebeningan hati akan membuat kita bisa melihat kebenaran itu ada di pihak kita atau pada lawan bicara kita sehingga kita bisa segera memegang kebenaran itu.
Kebeningan hati juga akan membuat kita mudah untuk menangkap isyarat yang menjadikan diri kita gelisah sehingga kita bisa mensikapi isyarat itu dengan baik dan menghilangkan kegelisahan yang ada. Bahkan kebeningan hati bisa membuat kita lebih peka terhadap apa yang selama ini kita kenal sebagai lintasan-lintasan perasan atau instink atau ilham karena ketika perasaan itu muncul dan masuk ke dalam hati, dia akan jelas terlihat oleh hati yang bening, sehingga akan banyak ide yang bisa keluar dari hati yang bening.
Teman…bagaimana dengan hati yang keruh??? Hati yang keruh bisa karena berbagai sebab….. cobalah perhatikan suatu wadah berisi air yang bening…. lalu jatuhkan ke dalamnya… potongan kayu….maka kayu itu akan mengapung…airnya tetap jernih tetapi pandangan kita terhalang oleh kayu itu sehingga perlu kita berpindah tempat atau menggeser kayu itu agar kita bisa melihat obyek yang terhalang oleh kayu tersebut…. bandingkan dengan.. kalau kita teteskan tinta…. maka air dalam wadah itu langsung berubah menjadi keruh tergantung sebanyak apa tinta diteteskan …. semakin banyak semakin gelap airnya sehingga meski kita berpindah tempat tetap saja kita tidak mampu untuk melihat yang ada di seberang sana…. membersihkan air yang ada kayunya mudah…diambil kayunya selesailah sudah…tetapi membersihkan cemaran air yang berupa tinta….kita harus mengganti airnya dan membersihkan noda pada wadahnya….apa tamsil dari peristiwa ini????
Kawan….. ketika kita melakukan suatu kesalahan karena kelalaian dan kelemahan kita dalam menghadapi cobaan atau godaan akan muncul dalam hati kita satu noktah (begitu dikatakan dalam sebuah hadits) akan tetapi noktah ini bukanlah tinta dalam wadah berisi air akan tetapi dia adalah potongan kayu sehingga relatif lebih mudah kita membersihkannya, karena kita bisa melihatnya segera….bukannya meremehkan dosa semisal ini…bukan berarti pula menggampangkan cara pengobatannya….karena kalau kayu yang jatuh dalam wadah berjumlah banyak mau gak mau wadah dan airnyapun akan keruh juga…tetapi… dari semula si pelaku bisa melihat kesalahannya itu… karena di sela-sela kayu itu dia masih melihat kejernihan air sehingga masih bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah….
Teman….bagaimana kalau air dalam wadah itu keruh??… dari sejak awal kita sudah kesulitan untuk melihat apa yang ada di seberang sana.. sehingga dari awal pula kita sudah sulit untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah…. bagaimana hal ini bisa terjadi????
*) Dari Om Dokter yang selalu smile@home
Posted at 15:09 by su91
