Ta’aruf 5
*IKATLAH ILMU DENGAN MENULISKANNYA*
Al-Hubb Fillah wa Lillah,
Abu Aufa
Ta’aruf besaral dari kata ‘arafa yang artinya mengetahui/mengenal. ta’aruf bermakna saling mengenal. Kata ‘arafa terdapat dalam al Qur’an:
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” [Qs. Al Hujurat:13]
Tata cara ta’aruf:
1. Menjaga Pandangan mata dan hati dari hal2 yang diharamkan
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”.[ Qs. An Nuur: 30]
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya……” [Qs. An Nuur: 31]
2. Materi pembicaraan tidak mengandung dosa dan tidak bermuatan birahi
“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat makruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barang siapa yang berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” [Qs. An Nisaa: 114]
3. Menghindari Khalwat (berdua2an/mojok)
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-sekali berkhalwat (berdua-duaan) dengan seorang wanita di tempat yang sunyi, sesungguhnya syetan akan menjadi orang ketiganya” [HR. Ahmad]
4. Menghindari Persentuhan Fisik
Rasulullah bersabda, “sesungguhnya aku tidak pernah bersalaman dengan wanita (bukan muhrim)” [HR. Bukhari]
5. Menjaga aurat masing2 sesuai dengan aturan syar’i/islam.
_________________
Hendaknya kita mengukur ilmu bkn dr tumpukan buku yg kita habiskan.Bkn dr tumpukan naskah yg kita hasilkan. bkn jg dr penatnya mulut dlm diskusi tak putus yg kita jalani.Tp dr amal yg keluar dr setiap desah napas kita (Ibnu Qayyim Al Jauzi

jadi yg di bicarakan apa ja?
Comment by dewa — 28 April , 2008 @ 6:11 am